Alergi (bagian2)

Maret 10, 2007

Contoh kasus: Beberapa waktu yang lalu datang seorang tukang roti yang baru memulai pendidikannya sebagai tukang roti, tetapi dicurigai menderita alergi terhadap beberapa macam tepung (gandum biasa, gandum hitam dsb.). Keluhannya: beberapa menit setelah mulai bekerja dan mengaduk adonan roti, pasien itu merasakan sesak nafas, yang berlangsung sampai sore harinya. Biasanya kalau jam kerja sudah lewat dan ia pulang, keluhan akan membaik, tetapi tidak hilang. Gejala sesak nafas ini baru hilang, kalau dia liburan atau pada akhir minggu, jadi kalau lebih dari 2 hari ia tidak berkerja. Atas dasar kecurigaan ini, saya minta dia untuk membawa 3 jenis tepung itu dan melaksanakan tes seperti tersebut di atas. Selama beberapa menit ia harus simulasi pekerjaannya dalam sebuah ruang kecil (mengaduk-aduk tepung). Belum sampai 3 menit, pasien keluar dan menyatakan, bahwa sesak nafas itu mulai terasa. Dalam tes spirometri yang kemudian dilakukan, dapat dibuktikan timbulnya penyempitan akut bronkial (obstruksi) dengan meningkatnya resistance setinggi lebih dari 100% dan turunnya FEV1 sebesar lebih dari 50%. Setelah pemberian betamimetikum efek singkat (fenoterol atau semacamnya) obstruksi itu hilang lagi.

Dengan ini terbukti adanya reaksi bronkial terhadap tepung-tepung tersebut. Selanjutnya harus ditentukan kadar IgE spesifiknya di serum terhadap tepung-tepung tersebut, untuk membuktikan, bahwa reaksi ini spesifik dan bukan hanya reaksi spesifik (hiperreagibilitas bronkial spesifik). Konsekuensi untuk pasien itu: ia harus mencari tempat pekerjaan lain.

Simptoma/Pemunculan klinik:

1. Shok anafilaktis: Akibat pembesaran pembuluh-pembuluh kapiler yang diiringi peningkatan permeabili- tas dindingnya , sebagian besar cairan plasma merembes keluar ke jaringan. Hal ini mengakibatkan hipovolaemia yang berarti turunnya tekanan darah secara berlebihan.

a. Akut: terjadinya beberapa menit setelah kontak dengan alergen (injeksi anestesi lokal, antibiotika, sengatan lebah dsb.). Gejalanya: kolaps (circulatory collaps) dengan tekanan darah yang (hampir) tidak bisa diukur dan takikardi. Kehilangan kesadran/pingsan. Sering disertai pembeng- kakan mukosa saluran pernafasan dengan edema glotis, sesak nafas. Kematian bisa terjadi dalam beberapa menit!!!

b. Proses lambat/berlarut: gatal-gatal, rasa panas pada telapak tangan dan kaki, di rongga mulut (sering dengan rasa metalik/logam), keluhan sirkulatoris (pusing, lemah, perasaan tidak enak badan dsb.), eksantem (bercak-bercak merah di seluruh tubuh, urtikaria dengan gatal yang hebat, pembengkakan mukosa dalam rangka edema Quincke. Bronkospasmus (pengerutan otot-otot bronki) yang mengakibatkan sesak nafas. Hipertensi!!! Hiperperistaltik (meningkatnya kerja saluran pencer- naan) dengan akibat muntah-muntah dan berak-berak (tidak harus diare!). Kejang-kejang otot tubuh karena gangguan pusat syaraf. Selain itu: lekopeni, trombo- peni, hambatan koagulasi darah.

Terapi:

– Bila pasien kehilangan kesadaran, letakkan dalam posisi samping yang stabil:

– kemudian injeksikan1 mg epineprin (adrenalin atau suprarenin) yang telah dicampur dengan 9 ml NaCl o,9%. Berikanintravenos beberapa kali (setiap kali 1 ml sampai seluruhnya. Kemudian Prednisolon 250 s/d 1000 mg. Sebagai pelengkap antialergikum (clemastinhidrogenfumarat atau dimetindenmaleat 4 mg), infus dengan cairan koloidal (HAES), Dopamin, Noradrenalin . Jika terjadi aspiksia, maka intubasi atau trakeotomi darurat.

“jarum” untuk trakeotomi darurat

Skema trakeotomi darurat Baca entri selengkapnya »


Alergi (bagian1)

Februari 15, 2007

Kutipan dari sebuah cerita kriminal: Seorang pengusaha kaya ditemukan tewas di rumahnya yang megah dengan wajah membiru dan bengkak-bengkak. Pemeriksaan pertama menyimpulkan, bahwa sebab kematiannya ialah penyumbatan saluran nafas, apalagi karena di dalam rongga mulut dan trakeanya ditemukan banyak sisa makanan. Seorang dokter ahliforensik lain yang mengenal korban merasa tidak puas dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, antara lain pemeriksaan darah, karena ia mempunyai kecurigaan tertentu. Dan ternyata memang dalam darah sang korban ditemukan tanda-tanda terjadinya shok anafilaktis berat. Pemeriksaan kimia membuktikan, bahwa di dalam wiski yang masih tersisa di gelas ada campuran sari/esens semacam kacang yang bernama hazelnut. Pengusaha itu memang penderita alergi, terutama terhadap hazelnut ini. Pada akhir cerita terungkap, bahwa istri keduanya lah yang mencampurkan esens hazelnut itu ke botol wiski. Alasannya ialah karena si pengusaha merencanakan untuk menceraikan istrinya ini dan hanya mau memberikan santunan yang kecil sekali.

Apakah sebetulnya alergi itu? Baca entri selengkapnya »


Emergency aid doctor

Februari 10, 2007

Paman saya yang sudah sepuh telah meninggal akhir tahun lalu, karena menderita hypertensive crisis (krisis tekanan darah) yang mengakibatkan edema paru-paru. Dalam keadaan kritis dengan sesak napas yang hebat itu, kakak keponakan saya meminta tolong seorang tetangganya yang mempunyai mobil dan beliau diangkut ke rumah-sakit. Sayang beberapa meter sebelum sampai, beliau sudah dipanggil.

Kenapa saya ceritakan ini?

Karena saya berpikir, apakah jiwa beliau bisa diselamatkan dan saya bisa menengok sekali lagi sebelum di usianya yang sudah tinggi itu beliau akhirnya akan dipanggil Tuhan, seandainya di Indonesia sistem emergency aid doctor sudah/bisa diterapkan.

Apa sistem emergency aid doctor ini?

Tidak lain sistem pertolongan pertama dengan dokter-dokter yang memperoleh pendidikan khusus dalam hal ini. Bahkan sejak kurang lebih dua tahun yang lalu, pendidikan ini diakui sebagai sebuah subspesialisasi.

Bagaimana bekerjanya sistem ini? Baca entri selengkapnya »


Ciclesonid: kortison baru, apanya yang baru?

Februari 10, 2007

Di samping betamimetika inhalatif, kortison inhalatif merupakan obat yang bisa dibilang terpenting dalam terapi asthma bronchiale dan COPD. Kita mengenal budesonid, flutikason dll. yang beredar di pasaran.

Sejak awal 2005 sebuah kortison baru telah diluncurkan ke pasar dalam bentuk obat hisap cair (spray). Baru? Apanya yang baru? Apakah ini semua hanya kiat reklame saja untuk meningkatkan angka penjualannya?

Marilah kita simak dulu sifat-sifat kortison inhalatif ini. Ciclesonid adalahKortison yang dijual dalam bentuk obat sedot atau inhalatif dengan therapie indikasi asthma bronchiale, COPD dan juga batuk kronis (mengenai batuk kronis ini akan saya bahas dalam postingan lain). Zat awalnya merupakan senyawa yang inaktif dan baru diubah menjadi bentuk aktifnya (desisobutiril-ciclesonid) di organ tujuan, yakni paru-paru, oleh esterase endogen. Baru zat aktif inilah yang mengembangkan sifat-sifat antiinflamatoris seperti pada kortison yang lain. Di bagian-bagian lain yang dilaluinya (mulut, tenggorokan, trachea) ciclesonid belum mengembangkan efeknya, sehingga efek sampingan di tempat-tempat tersebut menjadi lebih berkurang. Farmakodinamik: Dalam beberapa studi in vitromenunjukkan, bahwa zat awal ciclesonid memiliki afinitas relatif terhadap reseptor (RRA: Relative Receptor Affinity) glukokortikoid sebesar 12 (angka bandingan ialah untuk deksametason: 100). Sedangkan RRA dari desisobutiril-ciclesonid (DC) mencapai 1200 (budesonid 900, beklometason-monopropionat 1345 dan flutikasonpropionat 1800). Makin tinggi RRA-nya, makin bagus efek klinisnya. Berarti DC mempunyai efek klinis yang bisa dibandingkan dengan efek-efek kortison lain yang disebut di atas. Sedangkan efek antiinflamatoris DC ternyata bisa disejajarkan dengan kortison inhalatif yang lain. Dalam sebuah percobaan, ternyata ciclesonid yang diberikan intratrakeal kepada tikus mengurangi eosinofili di saluran pernafasan. Efek ini bisa sebanding dengan budesonid dan flutikason. Satu hal lagi yang penting ialah supresi terhadap kortisol. Dengan dosis antara 400 s/d 1600 µg, tampaknya ciclesonid hampir tidak mempunyai efek yang tidak diinginkan terhadap kelenjar adrenal. Baca entri selengkapnya »