Alergi (bagian2)

Contoh kasus: Beberapa waktu yang lalu datang seorang tukang roti yang baru memulai pendidikannya sebagai tukang roti, tetapi dicurigai menderita alergi terhadap beberapa macam tepung (gandum biasa, gandum hitam dsb.). Keluhannya: beberapa menit setelah mulai bekerja dan mengaduk adonan roti, pasien itu merasakan sesak nafas, yang berlangsung sampai sore harinya. Biasanya kalau jam kerja sudah lewat dan ia pulang, keluhan akan membaik, tetapi tidak hilang. Gejala sesak nafas ini baru hilang, kalau dia liburan atau pada akhir minggu, jadi kalau lebih dari 2 hari ia tidak berkerja. Atas dasar kecurigaan ini, saya minta dia untuk membawa 3 jenis tepung itu dan melaksanakan tes seperti tersebut di atas. Selama beberapa menit ia harus simulasi pekerjaannya dalam sebuah ruang kecil (mengaduk-aduk tepung). Belum sampai 3 menit, pasien keluar dan menyatakan, bahwa sesak nafas itu mulai terasa. Dalam tes spirometri yang kemudian dilakukan, dapat dibuktikan timbulnya penyempitan akut bronkial (obstruksi) dengan meningkatnya resistance setinggi lebih dari 100% dan turunnya FEV1 sebesar lebih dari 50%. Setelah pemberian betamimetikum efek singkat (fenoterol atau semacamnya) obstruksi itu hilang lagi.

Dengan ini terbukti adanya reaksi bronkial terhadap tepung-tepung tersebut. Selanjutnya harus ditentukan kadar IgE spesifiknya di serum terhadap tepung-tepung tersebut, untuk membuktikan, bahwa reaksi ini spesifik dan bukan hanya reaksi spesifik (hiperreagibilitas bronkial spesifik). Konsekuensi untuk pasien itu: ia harus mencari tempat pekerjaan lain.

Simptoma/Pemunculan klinik:

1. Shok anafilaktis: Akibat pembesaran pembuluh-pembuluh kapiler yang diiringi peningkatan permeabili- tas dindingnya , sebagian besar cairan plasma merembes keluar ke jaringan. Hal ini mengakibatkan hipovolaemia yang berarti turunnya tekanan darah secara berlebihan.

a. Akut: terjadinya beberapa menit setelah kontak dengan alergen (injeksi anestesi lokal, antibiotika, sengatan lebah dsb.). Gejalanya: kolaps (circulatory collaps) dengan tekanan darah yang (hampir) tidak bisa diukur dan takikardi. Kehilangan kesadran/pingsan. Sering disertai pembeng- kakan mukosa saluran pernafasan dengan edema glotis, sesak nafas. Kematian bisa terjadi dalam beberapa menit!!!

b. Proses lambat/berlarut: gatal-gatal, rasa panas pada telapak tangan dan kaki, di rongga mulut (sering dengan rasa metalik/logam), keluhan sirkulatoris (pusing, lemah, perasaan tidak enak badan dsb.), eksantem (bercak-bercak merah di seluruh tubuh, urtikaria dengan gatal yang hebat, pembengkakan mukosa dalam rangka edema Quincke. Bronkospasmus (pengerutan otot-otot bronki) yang mengakibatkan sesak nafas. Hipertensi!!! Hiperperistaltik (meningkatnya kerja saluran pencer- naan) dengan akibat muntah-muntah dan berak-berak (tidak harus diare!). Kejang-kejang otot tubuh karena gangguan pusat syaraf. Selain itu: lekopeni, trombo- peni, hambatan koagulasi darah.

Terapi:

– Bila pasien kehilangan kesadaran, letakkan dalam posisi samping yang stabil:

– kemudian injeksikan1 mg epineprin (adrenalin atau suprarenin) yang telah dicampur dengan 9 ml NaCl o,9%. Berikanintravenos beberapa kali (setiap kali 1 ml sampai seluruhnya. Kemudian Prednisolon 250 s/d 1000 mg. Sebagai pelengkap antialergikum (clemastinhidrogenfumarat atau dimetindenmaleat 4 mg), infus dengan cairan koloidal (HAES), Dopamin, Noradrenalin . Jika terjadi aspiksia, maka intubasi atau trakeotomi darurat.

“jarum” untuk trakeotomi darurat

Skema trakeotomi darurat

2. Serum sickness: Gejala-gejalanya sepeerti pada shock anafilaktis, tetapi biasanya jauh lebih ringan. Biasanya tejadi 5-8 hari setelah eksposisi pertama dengan alergen. Penjelasannya sbb.: waktu antibodi dibentuk, alergen/antigen yang pertama memasuki organisme tersebut belum seluruhnya tereliminasi, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari pada waktu permulaan. Sehingga reaksi yang terjadipun hanya meliputi sejumlah kecil alergen dengan antibodi saja. Inilah sebabnya, kenapa reaksi ini ringan saja. Simptoma:pada tempat injeksi akan muncul eritema yang kemudian meluas ke seluruh tubuh dengan diiringi naiknya suhu tubuh. Selain itu akan timbul urtikaria, edema Quincke, muntah-muntah, diare dan nyeri sendi yang mirip gejala rematik.

Terapi: Prednisolon dan antihistaminikum.

3. Urtikaria dan Edema Quincke: Kedua simptoma ini bisa merupakan bagian dari shock anafilaktis/serum sichkness atau juga merupakan gejala tersendiri. Urtikaria merupakan bercak-bercak merah di kulit yang diikuti timbulnya gelembung-gelembung putih (wheals) yangbesarnya bervariasi dari kira-kira 0,5 cm sampai selebar telapak tangan. Batasannyaterhadap kulit di sekelilingnya jelas/tajam, diiringi rasa gatal dan nyeri. Gelembung-gelembung ini bisa menyatu dan membentuk gelembung besar berisi cairan (bula). Di selaput mulupun gejala ini bisa muncul. Terkadang suhu tubuh naik (tidak terlalu tinggi). Sesudah 2 hari biasanya semua akan menghilang. Afeksi ini terbentuknya hanya di lapisan permukaan kulit saja. Sebaliknya Edema Quincke mengenai juga lapisan-lapisan yang lebih dalam. Pembengkakan ini biasanya hanya terbatas di wajah, bibir dan lidah, dan hanya menimbulkan perasaan tegang di bagian yang terkena tanpa gejala lain. Kecuali, tentu saja, jika bagian tenggorokan juga terkena, sehingga bisa menyebabkan edema glotis.


Edema Quincke Urtikaria

Terapi:Prednisolon dan antihistaminikum, kalsiumglukonat intravenous.

4. Eksantem sebagai manifestasi alergi terhadap obat-obatan: Eksantema akibat alergi terhadap obat-obatan bisa mirip seperti eksantema yang terlihat pada beberapa penyakit infeksi: morbilli/german measles, rubella, scarlet fever/scarlatina. Bercak-bercak merah yang timbul bisa menyatu (konfluensi) dan jarang melebihi permukaan kulit, diiringi rasa gatal dan bisa mengenai rongga mulut, di mana eksantem itu bisa menyerupai eritema eksudativum. Obat-obat yang bisa menyebabkan alergi (contoh): penisilin dan derivatnya (amoksisillin, ampisillin dsb.), sulfametoxazol/trimetoprim dll.

Terapi: Kortison (prednisolon) dan antihistaminikum. Pada edema glotis yang menyebabkan sesak nafas kadang harus dilakukan trakeotomi darurat (lihat di atas).

5. Beberapa reaksi alergis di bagian/rongga mulut:

a. Cheilitis alergis akut: Bengak dan merah di bibir diikuti rasa gatal dan tegang, kadang denga ulserasi pem- borokan. Antigen yang menyebabkan reaksi ini sering obat oral/telan, makanan (putih telur, ikan dll).

b. Cheilitis eczematosa: Muncul setelah kontak jangka agak panjang dengan obat, makanan, kosmetika, pasta gigi dsb. Beruap merah dan pembengakakan bibir dan bagian sekelilingnya dengan erosi permukaan, vesicula dan crusta. Di mucoas yang bersangkutan juga terlihat eritema edematos dengan atau tanpa vesicula. Biasanya dengan pemborokan di sudut mulut/bibir (ragada), gatal dan rasa panas di bibir.

c. Stomatitis alergis akut: Pembengkakan mukosa dan memerahnya (rubor) disertai timbulnya vesicula dan erosi. Rasa panas, nyeri waktu mengunyah, produksi air liur berlebihan. Antigen: pasta gigi, permen karet, tembakau, obat, makanan, bahan-bahan yang dipergunakan di kedokteran gigi.

d. Stomatopati alergis sebagai reaksi terhdap prostesis/implantat: Memerahnya dan pembengkakan mukosa di bagian palatin (atap mulut) dan alveolar process, jarang di mukosa bagian pipi atau di lidah. Erosi permukaan, coating, rasa panas, gangguan rasa (disgeusia). Alergen: implant atau prostesis metal atau sintetik.

Terapi: eliminasi antigen, kortison.

Kalau kita menyimak secara teliti tulisan di atas, akan terlihat, bahwa pengobatan yang dilakukan adalah pengobatan simptomatis saja, jadi hanya mengobati gejalanya saja. Kecuali denga eliminasi atau penghindaran kontak dengan alergen, hingga kini tidak ada pengobatan kausal dari alergi. Penyembuhan mutlak dari penyakit alergi sampai saat ini di dunia kedokteran modern belum diketemukan. Dalam dunia pengobatan tradisionil dan alternatif, dikenal bermacam-macam cara pengobatan, dari makan/minum bubuk cicak yang telah dikeringkan sampai usaha penyembuhan dengan kekuatan gaib. Mengenai ini penulis merasa tidak cukup kompeten untuk mengomentarinya. Memang ilmu pengobatan tradisionil, kalau diterapkan secara rasionil, akan bisa melengkapi ilmu kedokteran modern.

Sebagai usaha pengobatan kausal, dalam dunia kedokteran modern dikenal terapi hiposensibilisasi atau yang juga disebut Specific immune therapy (SIT). Prinsipnya ialah pemberian antigen secara bertahap dari dosis kecil yang perlahan-lahan ditingkatkan. Tujuannya ialah merangsang pembentukan antibodi dari golongan IgG, yang mengakibatkan supresi atau pencegahan /pengurangan pembentukan antibodi golongan IgE yang spesifik untuk antigen yang diaplikasi.

Terapi ini dilaksanakan dengan pemberian alergen tertentu yang diproduksi di pabrik farmasi (bisa juga dalam bentuk kombinasi dari beberapa alergen) dan dapat diberikan dalam bentuk injeksi subkutan pada bagian lengan bawah sebanyak 1 x per minggu. Sejak beberapa tahuntersedia juga obat ini dalam bentuk tetesan sublingual (di bawah lidah) dan harus diberikan setiap hari. Kedua macam terapi ini harus dijalankan selama 3 tahun.

Keberhasilan terapi ini bisa mencapai 95% tergantung dari jenis alergennya.

47 Balasan ke Alergi (bagian2)

  1. cakmoki mengatakan:

    Di tempat kami, ada beberapa kasus alergi bahan dasar pembuatan lem kayu (plywood), seperti gambar paling bawah. Repotnya karyawan di bagian tersebut sulit pindah bagian. Biasanya dokter klinik perusahaan kayu tidak berani memberikan rekomendasi pindah bagian lain sebelum masa rotasi.
    Bahasannya lengkap, siiip.
    Masih ada lagi kan ?
    Kalau sempat mbahas Asma pada anak Pak, hehehe maaf jadi ketagihan.

  2. Evy mengatakan:

    Thanks artikel-nya pak, menarik sekali…reaksi alergy ini sering banget lho sbnrnya dan penanganannya juga harus segera…cuman orang suka lupa sedia ephinephrin di klinik nya…:(. Desensitisasi itu pemberian antigennya buatan pabrik pak, so memang sudah di buat ya alergen spesifik untuk alergi2 spesisifk? Apa saja pak?

  3. Kang Adhi mengatakan:

    Kang apa ada hubungan antara alergi dengan stress? Maksud saya apakah orang yang memang sudah bakat alergi akan semakin cepat mengalami alergi pada kondisi stress? Kalau iya, kenapa?

  4. cakmoki mengatakan:

    Ada yang nanya alergi pak.
    Mengingat sudah ada postingannya, dan njenengan lebih ahli, maka saya link ke posting alergi (1). Diaturi menjelaskan. maturnuwun😀

  5. tukangkomentar mengatakan:

    Mas Cakmoki,
    Kalau di Jerman dokter harus menganjurkan ke pasien untuk pindah bidang kerja, kalau tidak bisa repot kalau sakitnya jadi parah.
    Sedang untuk pasien kalau nggak mau pindah (karena takut kehilangan pekerjaan) bisa repot juga, karena organisasi pekerja yang menanggung pensiunnya bisa menolak memberi pensiun tambahan karena penyakit alergi yang berhubungan dengan pekerjaannya tersebut.
    akan saya usahakan nulis tentang asthma bronchiale pada anak (biarpun saya bukan dokter anak). Di Jerman sekarang mulai ada spesialisasi pneumologi anak-anak.
    Sebetulnya mbak Astri sudah nanya saya, saya anjurkan ke blog anda, supaya bisa kita bahas sama-sama. Tapi ya nggak apa-apa, saya ngobrol dengan beliau di blog ini saja.

    Mbak Evy,
    alergen untuk hiposensibilisasi yang tersedia itu buanyak sekali. Antara lain:serbuk sari bunga rumput, bermacam padi-padian (gandum, wheats dsb.), serbuk sari bunga pohon-pohonan (di bagi menurut masa berkembangnya: musim semi atau musim panas), tungau, macam-macam jamur (aspergilus fumigatus, penicilium notatum, alternaria, cladosporium dll), eiptel binatang: anjing, kucing, kuda, kelinci dsb.

    Kang Adhi,
    stress bisa mempercepat/mempermudah timbulnya reaksi alergi (pada penderita alergi), bisa memperparah reaksi alergi dan bisa juga menimbulkan reaksi yang mirip alergi.
    Contoh: seorang yang alergi terhadap kucing kalau melihat gambar kucing bisa stress dan menunjukkan simptom alerginya.
    Salah satu teori (yang terbaru): kalau seseorang sedang stress, maka keseimbangan hormon-hormonnya akan terganggu. Baru-baru ini beberapa ilmuwan di Universitas Trier di Jerman menemukan, bahwa pada anak-anak yang menderita neurodermitis, produksi hormon kortisolnya sedikit. Padahal hormon ini diperlukan waktu mereka kena stress untuk mengatur reaksi-reaksi tertentu. Nah, karena kekurangan kortisol ini, maka pengaturan reaksi-reaksi tsb. di atas juga adi terganggu, sehingga bisa timbulreaksi alerginya (dalam hal ini kambuhnya neurodermitisnya. Selain itu mereka menemukan, bahwa beberapa reaksi autoimun yang terjadi pada alergi menjadi lebih kuat pada masa stress.
    Penelitian detilnya masih belum selesai. Mungkin ini bisa menjadi awal pengobatan neurodermitis yang efektiv dan juga untuk alergi pada umumnya.

  6. Evy mengatakan:

    Wie geht es Ichnen?
    Thanks pak, tapi itu kebanyakan buat bule, disini klo udah mulai spring gini juga pada bersin2, buat org Indo musti di cari kali, kebanyakan alergy debu, tapi debu yg mana juag ga jelas… lha kok berkembangnya jd sinusitis. OK vielen dank

    dah berapa lama di Germani und kota apa pak? Aku dulu di homburg dan masih kudu bali lagi neeh ujian doctor arbaite DMD-ku, untunge boleh in english….German mah mabuk aku…

  7. mei mengatakan:

    pembahasannya lengkap, makasih kang..jadi sedikit ngerti kalau musti ngejelasin tentang alergi.

    obat apa yang bisa dan aman d berikan pada kasus2 alergi seperti itu?insidal saja cukup khan sebelum mereka d kirim ke dokter??ada dosis khusus gak buat anak2 umur tertentu??

    tentang gigitan lebah kang, tolong dijelaskan bagaimana penanganan awalanya

    thanks, dan maaf baru kenal sudah nanya banyak macam..hehe

  8. peyek mengatakan:

    weleh medical banget, jadi nggak mudeng, tapi siip infonya.

  9. tukangkomentar mengatakan:

    Mbak Evy,
    memang yang saya sebutkan itu memeang alergen yang biasa dijumpai di Eropa. Kalau di Indonesia mungkin ya alergi tahu/tempe (bisa hidup nggak ya, kalau orang alergi tahu/tempe? kalau saya sih sulit pasti!🙂 ).
    Kalau alergi debu itu kok saya rasa nggak ada, yang ada alergi terhadap zat-zat yang dikandung dalam debunya, ya seperti tungau, serbuk bunga dsb. Ada memang reaksi bronkial terhadap debu yang non spesifik dan juga mengakibatkan bronkokonstriksi dan sesak nafas, tetapi ini bukan alergi, tetapi hipersensitivitas bronkial non spesifik (jadi selaput lendir/mukosa bronkialnya yang peka sekali, dan ini merupakan salah satu dasar penyakit asma pada umumnya, baik yang alergis maupun yang non alergis).
    Saya sendiri hidup di sebuah kota kecil di Jerman Selatan. Kapan ke Jerman lagi? Bisa mampir?

    Mbak mei,
    makasih juga sudah mampir.
    Obat antialergi sekarang sudah banyak, a.l. ya antihistaminika itu. Kalau namanya di Indonesia saya kurang tahu (pasti Cakmoki di blognya bisa menjawab). Kalau nama generiknya antara lain: dimetinden, cetirizin, loratadin, mizolastin dll. Ada yang bikin ngantuk setelah minumnya, ada juga yang nggak. Jadi harus dipertimbangkan dulu sebelum minum, harus nyetir atau nggak? Harus ke sekolah atau nggak? Dsb.
    Yang nggak bikin ngantuk itu seperti dimetinden, mizolastin dll.
    Mengenai dosisnya ada yang khusus untuk anak-anak, biasanya dituliskan di brosurnya atau bisa tanya dokter. Di jerman/Eropa ada juga antialergi yang berbentuk semprotan hidung, lebih praktis.
    Mengenai sengatan lebah, ya kalau reaksinya ringan diberi kortison (biasanya 500 s/d 100 mg intravenous dan juga antihistaminikum intravenous). Kalau menjurus ke shock anafilaktis, terapinya seperti yang saya paparkan dalam posting saya.
    Nggak apa-apa banyak tanya, saya senang kalau bisa membantu sedikit.

    Mas peyek,
    maaf mungkin bahasa Indonesianya agak kalang-kabut, karena banyak istilah kedokteran Indonesianya yang saya nggak tahu pasti, jadi nebak-nebak saja.

  10. titah@rumahkanker mengatakan:

    mas dokter,
    obat antialergi kan dijual bebas, ada batasannya nggak seberapa banyak & seberapa lama boleh dikonsumsi dengan aman? ada teman yang rupanya alergi debu (?) ke mana-mana dia bawa CTM untuk dikonsumsi kapan saja merasa butuh. lucunya alerginya musim-musiman, kalo lagi kumat bisa berminggu-minggu bersin melulu. kalo lagi baik, berbulan-bulan gak bersin sama sekali.

  11. imcw mengatakan:

    wah…artikel yang lengkap…lumayan buat nambah pengetahuan tentang alergi…sebuah penyakit yang sungguh sungguh menjengkelkan bagi pengidapnya…salam kenal dari bali

  12. Dani Iswara mengatakan:

    saya tertarik yg specific immune therapy/terapi imun spesifik (hiposensibilisasi) pak..

    • bagaimana perkembangan terapi ini di Indonesia ya pak..?
    • jika alergennya sperma, apakah ada jg yg sublingual..?
    • biayanya disana brp ya..
    • selain inj sc dan sublingual drop, ada cara yg lbh sederhana dan murah ngga pak ya..

    makasi..😀

  13. erander mengatakan:

    Terima kasih infonya. Boleh nanya ga? Alergi itu juga bisa ganti2 ya? Dulu alergi udang. Sekarang alergi cumi. Emang bisa ya. Atau dulu tidak alergi apapun. Sekarang jadi alergi.

  14. tukangkomentar mengatakan:

    titah@rumahkanker,
    ada bermacam-macam antihistaminika, tergantung reseptor histamin mana yang diblokade.
    H1, H2, H3 dan H4.
    Seperti telah disebut di namanya, H2 antihistaminikum memblokade reseptor histaminika H2 yang terdapat di mukosa perut (mag). Antihistaminika ini dipergunakan sebagai pemblokade asam perut (untuk mencegah/mengobati penyakit mag dsb.).
    H3 antihistaminikum masih dalam taraf penyelidikan dan mungkin bisa digunakan untuk pengobatan narkolepsi atau morbus alzheimer.
    H4 antihistaminikum baru ditemukan dalam tahun 2000 dan kemungkinan bisa berguna sebagai obat antiinflamataoris.
    CTM atau chlorfeniramin (chlorpheniramin) termasuk dalam H1 generasi pertama dan berefek juga secara memblokade efek histamin di reseptor h1 di sentral di otak pusat. Efeknya ialah mengurangi rasa mual dan juga menyebabkan mengantuk (ini merupakan salah satu efek sampingan khas dari h1 antihisttaminikum). Karena itu, sekarang h1 antihistaminikum di eropa lebih banyak digunakan sebagai obat anti muntah (antiemetikum). Dan tentu saja ada batasan dosisnya.
    Yang saat ini beredar sebagai antihistaminikum untuk memerangi alergi ialah yang dari generasi ke dua, seperti: cetirizin dan loratadin (untuk penggunaan sistemis) dan levocabastin atau epinastin untuk penggunaan lokal.
    mengenai reaksi alergi teman anda itu kok aneh, ya? Kan debu ada di mana-mana. Apakah dia betul-betul alergi “debu”?? (baca posting saya).

    imcw,
    salam kenal juga dari jerman. Senang bisa membagi sedikit pengetahuan.

    Dani Iswara,
    wah, kalau mengenai terapi hiposensibilisasi di Indonesia saya terus terang kurang tahu. Masalahnya kan katanya di Indonesia masih sedikit penderita alerginya, jadi mungkin pabrik farmasinya masih belum “tergugah” (baca: belum melihat kemungkinannya untuk mendapat keuntungan dari produksi alergen-alergen spesial ini) ya?
    Mengenai alergi sperma: wah, porno nih!! 🙂
    Tapi serius: penderitanya kan betul-betul baru suuueeedikittt sekali (kira-kira di seluruh dunia baru diketahui 70 wanita), jadi nggak menguntungkan untuk memproduksi alergen untuk hiposensibilisasi, kan? (mungkin lho).
    Kalau di Jerman minimum harus dijalankan 3 tahun dan biayanya seluruhnya bisa mencapai kira-kira Rp 30 000 000,00 (tigapuluh juta rupiah) kalau dirupiahkan menurut kurs aktual. Tapi kalau di Jerman biaya ini diambil alih oleh asuransi kesehatan.
    Untuk hiposensibilisasi ya nggak/belum ada alternatifnya, katanya ada terapi alergi bioenergi pakai bola kuningan dsb. (baca cerita mamanya-mecca di alergi bagian 1). Tapi ya itulah, kok kedengarannya seperti main sihir-sihiran, Saya tidak mengerti sih mengenai ilmu kesehatan bioenergi. Cara yang lebih mudah ya menghindari eksposisi dengan alergennya: kalau alergi protein burung ya jangan pelihara burung, kalau alergi udang jangan makan udang, dsb.

    erander,
    alergi bisa berganti-ganti intensitasnya dan spektrumnya bisa bertambah, tetapi (jarang) bisa juga berkurang.
    Alergi bisa muncul setiap saat.

  15. rizmaadlia mengatakan:

    aduh,, penyakit Ma banget tuh,, alergi dingin-debu-ikan laut,, banyakk,, biasanya dikasi metil prednisolone,, lumayan cepet ilangnya,, tapi pengen juga biar ga alergi lagi,, di desensitisasi ya?? gimana caranya sih??

    btw,, alergi sperma,,? lucu juga

  16. tukangkomentar mengatakan:

    rizmaadlia,
    mengenai terapi hiposensibilisasi postingnya sedang saya persiapkan. Secara singkat sudah saya tulis dalam posting saya.
    Salam kenal, makasih sudah mampir. Mana jajannya? 🙂

  17. super kecil mengatakan:

    wah…
    tulisan bapak bisa jadi bhan ujian saya
    patologi umum
    yang tidak saya mengerti….

    dokter dimana pak?

  18. super kecil mengatakan:

    nambahin pak
    CTM tu chlorpheniramin maleatis

  19. tukangkomentar mengatakan:

    super kecil,
    terima kasih sudah mampir. Saya sih berkaryanya di seberang (Jerman).
    CTM kalau di Jerman sudah nggak dipergunakan lagi sebagai antihistaminikum, tetapi sebagai antiemetikum.

  20. super kecil mengatakan:

    kok bisa gitu ya pak?
    mekanismenya bagaimana?
    kalo bisa secara molekuler….

    berarti tidak bekerja di cell mast lagi ya pak?

    oiy pak kalo disana apoteker berfungsi ga pak?

    misalnya pelayanan obat
    yang menangani apotekernya bukan pak?

    sering2 kasih info ya pak…

  21. atemodikoro mengatakan:

    2 gambar terakhir kok medeni to mas…

    salam kenal..

  22. tukangkomentar mengatakan:

    super kecil,
    maksudnya apakah antihistaminikum yang termasuk h1 generasi pertama, kan? Sebetulnya masih ada efeknya di mast cells, tetapi ternyata efek di reseptor h1 sentral (di otak) lebih besar, jadi efek antialergisnya kurang memadai. Dan kalaupun efek ini cukup lumayan, efek yang bikin ngantuk itu mengganggu sekali.
    Kalau di Jerman pelayanan obat melalui apotek. Biasanya pelayanan dan informasi dari pihak apotek cukup bagus (cuma kadang ada yang sok tahu dan berlawanan dengan indikasi yang kita terapkan).
    Kalau sekarang ada apotek internet, jadi pelayanan yang itu di situ nggak ada lagi tentunya. Jadi penderita harus minta informasi yang lengkap dari dokternya.
    Kalau untuk kita yang dari bidang kesehatan ya nggak apa-apa, tapi untuk orang awam agak sulit, apalagi kalau dokternya kurang informatif. Keuntungan dari apotek internet: lebih murah.

    atemodikoro,
    salam kenal juga.
    Wah, ini sih belum seberapa. Ada yang lebih mengerikan lagi (buat yang nggak biasa). Persis foto film horor. 🙂

  23. nana mengatakan:

    Salam kenal
    Saya lagi penasaran kenapa bisa alergi sampai 2 minggu ga hilang. Kalau dari gambar yg urtikaria dan edema. Bentol-bentol seperti digigit semut pada bagian paha, lengan dan lutut.
    Kadang pagi kadang malam, biasanya saya kasih balsem aja trus ilang. Saya juga minum ryzen separo dua hari sekali. Biasanya setelah makan seafood (cumi – udang) alergi akan hilang 1 -2 jam setelah makan. Tapi ini sudah 2 minggu.
    Dari hasil lab darah IgE total 209, Eosinofil= 1, Neotrofil batang=0, Neotrofil Segment= 81, Limfosit=17, Monosit=1. Terimakasih banyak atas tanggapannya. Thx a lot.

  24. super kecil mengatakan:

    haturnuhun pa’
    infonya
    sering2 kasih info ya pa’
    apalagi soal obat baru…

    bapa’ di luar negri ya?
    sepertinya perkembangan obat di Eropa lebih pesat…
    so, kabar2i kami yang ada disini ya pak…

    haturnuhun so much

  25. Fa mengatakan:

    Wah, saya baruuu saja sembuh, seminggu yg lalu, tiba2 setelah bersih2 kamar, jari2 tangan saya gatal luar biasa, diikuti jari kaki, kaki, betis hingga paha bagian belakang, berikutnya, jari2 tangan menjadi bengkak (bener2 bengkak) sampe2 saya harus memaksakan diri melepas cincin kawin, kata dokter alergi. Padahal sepengetahuan saya, saya cuma alergi sama yg namanya ikan asin, teri dan kawan2nya, tidak pada debu. Tapi bener, setelah disuntik sama bu dokter, dikasih obat2an (antihistamin), salep (Indoson), skrg semua sudah berakhir. Lalu saya nemu artikel ini, wah, jadi makin ngerti. Makasih yaa…. en salam kenal😀

  26. prima mengatakan:

    pak,punya tulisan ato jurnal ttg reaksi toksik/alergi akibat antropoda g…?bagi2 donk…oya btw,kok bs berkrya di luar negri s???gmn crt n crnya??prima jg pngen…hehehe..

  27. tukangkomentar mengatakan:

    nana,
    apakah anda pasti itu alergi? Kalau ia, apa alergennya? Kalau memang alergi, dari lokalisasinya (yang nggak spesifik) kemungkinan satu-satunya alergi kontak (karena bersentuhan dengan suatu alergen di bagian-bagian itu, contoh: baju atau celana baru). Apakah bukan hanya di gigit nyamuk??
    Apakah anda memang punya alergi (seafood?). Dan IgE total yang 209 itu satuan nya apa dan normalnya berapa (kadang satuan dan nilai normal yang dipakai beda). Kalau Ryzen nggak nolong ya hentikan saja.

    superkecil,
    salam juga dan terima kasih atas kunjungannya.

    Fa
    senang bisa membantu.

    prima,
    akan saya usahakan.
    Yah, saya sih sudah jadi orang sono, jadi kerjanya ya di sana.

  28. awen mengatakan:

    Saran saya coba saja terapi alergi metode Biofisika/Bioresonansi. Saya sendiri sudah tidak alergi debu, tungau & jamur.

  29. tukangkomentar mengatakan:

    Awen,
    coba apa saja sih boleh, pokok kan bisa menolong. Bisa juga disarankan minum bubuk cicak yang sudah dikeringkan dan ditumbuk. Atau bisa coba makan daging kelelawar, katanya bisa membantu juga.
    Memang penyakit physis itu tidak bisa dipisahkan dengan psyche. Kadang memang sebuah kepercayaan bisa memindahkan gunung, iya, toh?
    Apakah alergi anda itu sudah dibuktikan dulunya? Dengan apa?
    Setahu saya alergi debu itu tidak ada, yang ada alergi terhadap kotoran (jadi protein) tungau yang terkandung di debu.
    Mungkin anda bisa menceritakan agak mendetil, mungkin bisa membantu rekan-rekan yang menderita?
    Seperti saya tulis, coba apa saja itu legitim, asal bisa menolong.

  30. dinkesprovsulteng mengatakan:

    Salam Kenal….

    Sangat menarik,,,,,,

  31. Surgamaya mengatakan:

    Hello, salam kenal Pak Dokter😀
    Saya sedang cari tahu tentang alergi karena seminggu yang lalu saya dinyatakan alergi debu dengan symptom batuk dengan lendir kental warna bening seperti lem oleh specialis alergi di jakarta. hiiiiy maaf ya kalau ada yang jijik bacanya😀

    Sudah seminggu berusaha juga menjauh dari alergen- dengan membersihkan dan mengenluarkan barang2 yang potensial menjadi pemicu, teteup aja masih batuk walaupun tidak parah. kalau karpet di kantor sih sulit untuk dihindari. Sebalnya, kalau sudah batuk suka jadi migrain, diduga karena otot menegang.

    Sudah setahun berkeliling ke dokter-dokter, nggak juga menunjukkan hasil yang signifikan. Mungkin pemicu-nya stress ya pak dokter?

    Ayo pak, posting lagi tentang alergi, menyenangkan bisa menemukan blog ini yang membahas alergi. Penderita alergi yang seperti saya desperatelly need moral support 😉

  32. lia mengatakan:

    Aku alergi protein, sehingga kulitku ga mulus. Kulit saya pernaha gatal2 hebat, telapak tangan dan rongga mulut juga gatal2, kata dokter itu alergi protein. Tetapi tidak semua dokter tahu mengenai kondisi ini, karena saya baru sembuh setelah pergi ke dokter yang ke empat.

    Apakah ada obat untuk mengatasinya?

  33. fiona verisqa mengatakan:

    Salam kenal pa dokter!
    saya punya pertanyaan, kalau saya “merasa” flu dan konsultasi ke dokter, saya tidak pernah diberikan obat flu yang saya kenal atau yang dijual bebas, tapi antibiotik dan obat semacam clarinase, rhinofed dsb yang katanya untuk alergi.. diagnosanya saya rhinitis.. pertanyaannya.. apakah kalau rhinitis selalu diberikan obat anti alergi? atau tegantung etiologinya?

    terimakasih sebelumnya🙂

  34. Paj Tan mengatakan:

    Salam kenal pake dokter!
    Saya laki-laki berusia 23 tahun, dalam satu tahun belakangan ini saya menderita gejala yang mirip dengan alergi. saya tidak berani menyebutkan spesifikasi penyakitnya karena saya belum melakukan uji medis.
    riwayat hidup saya belum pernah mengalami gejala ini sperti alergi ini sebelumnya. satu tahun belakangan memang saya mengkonsumsi sejenis suplemen cair untuk membersihkan darah. mulai saat itu saya sering mengalami gejala alergi ini. tapi setelah saya memberhentikan pemakaian suplemen tersebut gejala ini masih berlanjut. bahkan saat ini, jika suhu udara dikota saya (Medan) terlalu panas/ dingin atau peralihan antara keduanya gejala ini akan menjalar kesekujur tubuh saya. rasanya kulit saya seperti terbakar dan sangat gatal.
    gejala yang saya derita ini apakah sejenis alergi juga dok? dan apakah masih mungkin untuk sembuh total seperti semula?
    terima kasih sebelumnya

  35. bagus mengatakan:

    sblumnya sy mnta maaf…kl dokter bs tlong cpt bls ne.
    sdh belasan tahun saya menderita alergi karena dingin.
    kulit saya bentol2 dan terasa gatal.sy skrng du2k di bangku kuliah dan akan menghadapi dunia industri mhon ur confrm..

  36. y.kejora mengatakan:

    thanx yua…infox cz q lg bth bhn wad makalah…

  37. ant's mengatakan:

    wah mana nih respon nya ….udah banyak yg nanya lhoo…………………….

  38. hery mengatakan:

    saya 1 tahun yg lalu mengalami alergi dengan gejala bengkak dan gatal (biduran) namun sekarang bentuk alerginya tidak lagi gatal2, tapi sesak nafas seperti kena flu, kadang saya berfikir akan mati karena kehabisan nafas, ini sangat menggangu saya dan menjadi semacam phobia kadang saya panik dan merasa ajal akan menjemput, saya pernah ke dokter umum n dikatakan itu hanya psikologis, dan dkasih obat, lalu saya agak tenang, kadang phobia itu muncul lagi kalau sesak nafas saya kambuh, kira2 pengobatan macam apa yg perlu saya lakukan? therapy apa yg perlu saya lakukan?

    karena saya tidak aktif di wordpress
    mohon informasinya bisa dikirim ke e-mail : herry_comot@yahoo.com

    terima kasih

  39. dyah mengatakan:

    slam kenal, tanya juga dong.., kalau kayu-kyauan apakah punya senyawa alergen?, senyawa alergen itu pasti proein kah?, pengujiannya bisa dengan uji kjeldal ? untuk menentukan kandungan proteinnya.. trims.

  40. herren9 mengatakan:

    Well
    If I were you though, I wouldn’t become dependant on it….I just did it that once, and that was it…I had a roomate who became mentally dependant on it (and that came out to be expensive too) order cheap online
    Bye !!
    ________________________________🙂 cheap

  41. uminya mengatakan:

    saya seorang wanita berusia 27 thn, memiliki riwayat urtikaria, sudah lama tidak pernah muncul tetapi sudah beberapa bulan ini muncul lagi. dulu saya pernah melakukan tes alergi yg disuntikkan ke bawah kulit (sekitar 24 zat) dan hasilnya negatif. hanya satu yg positif yaitu saat disuntikkan serum darah saya sendiri. jd menurut dokter tsb saya memiliki alergi thd serum darah saya sendiri. dengan demikian, penjelasan dokter tsb adl jika saya mengalami infeksi maka urtikaria ini akan muncul. saat ini urtikaria saya sering kambuh, dan sudah diberi telflast oleh dokter untuk 10 hr, namun setelah obat habis, maka gatalnya muncul kembali. jika memang gatal ini menunjukkan sedang terjadi infeksi dalam tubuh saya, harus dari mana sy memulai mencari sumber infeksinya dok? apakah seumur hidup saya harus mengkonsumsi obat? apakah obat untuk urtikaria ini berbahaya bagi janin? terima kasih sebelumnya dok…

  42. […] belum tentu karena makanan. Lebih jauh tentang alergi, sila tengok: Artikel: alergi (1) dan alergi (2) […]

  43. Putra mengatakan:

    Saya sering alergi terhadap ikan, daging, terutama telur dan daging ayam negri, reaksi gatal-gatalnya cukup cepat dalam 10 menit setelah makan daging ayam negri badan langsung gatal. Adakah obat yang tepat untuk mengobatinya?? Terima kasih

  44. afri mengatakan:

    mohon infonya ya…….

  45. afri mengatakan:

    mohon infonya ya……

    .saya pnya alergi nih…. udah bertahun tahun sejak saya masih sekolah… sampe sya udah krja.. mana kerjanya di AC lg haduh sedih,
    alergi bibir bila di lingkungan dingin… terlalu lama..
    pertama yg terasa ..hri pertama
    bibir trsa kering
    hari ke 2trs .. bibir trasa panas..trs abis itu di campur perih..memar warna merah
    trs hari ke 3 byasanya timbul pemborokan bgtu
    apa ya solusinya ……
    makasih…..

  46. rockiyatun mengatakan:

    salam kenal..

  47. amargiamargo mengatakan:

    Wadu, rupanya banyak pertanyaan yang belum saya jawab ya? Mohon ngapunten/maaf ya sederek-sederek semua. Kalau sempat saya jawab satu-satu ya, biarpun sudah 7-8 tahun umur (pertanyaan)nya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: