Baa’syir in action

Membaca berita di Jawa Pos tanggal 23 Februari 2007 saya jadi bertanya-tanya. Apakah dunia ini sudah terbalik? Singkat ceritanya: Baa’syir, yang kalau nggak salah seorang ulama dan pemimpin Pondok Ngruki, mau (bukan ingin atau meminta) bertemu dengan Presiden SBY. Tujuannya? Memberi nasehat kepada Sby, bahwa sebagai seorang muslim, beliau mempunyai kewajiban mengatur rakyat dan negara dengan hukum Islam. Menurut Baa’syir: ” Tidak mungkin seorang presiden bisa memimpin negara dengan baik tanpa menjalankan hukum Islam. dan “Mudah-mudahan tidak ada bencana lagi dan negara dalam keadaan adil makmur. ” Nah, Baa’syir pada mulanya mencoba masuk lewat pintu belakang Istana Negara. Nah, karena tidak ada perjanjian atau jadwal bertemu dengan Presiden, tentu saja Paspampres menolaknya. Lagi pula waktu itu sedang ada tamu negara PM Malaysia. Lalu Baa’syir minta bertemu dengan JuBir kepresidenan Mallarangeng, yang ternyata sedang menjalankan tugasnya mendampingi Presiden dalam pertemuan dengan tamu negara tersebut. Akhirnya Baa’syir menyerahkan surat dan buku yang dibawanya kepada staf kepresidenan. Sebagai seorang yang bersemangat juang, Baa’syir lalu mencoba masuk lewat pintu depan, di mana ia logisnya ditolak lagi dan bahkan dihalau pergi.

Ujarnya:”Saya kecewa, tujuannya baik, tapi tidak diterima, ya nggak apa-apa. Mudah-mudahan Presiden diberi petunjuk Allah dst. dst. ……

Merasa ditolak, Baa’syir mendatangi gedung DPR dan mengadu ke Zaenal Ma’arif yang Wakil Ketua DPR itu dan memintanya untuk mengingatkan Presiden atas kekurangajaran ini.

Yang kelayangan dalam benak saya:

1. Setahu saya, kecuali dalam acara-acara tertentu, memang anggota masyarakat boleh menemui presiden, tetapi harus melalui prosedur tertentu. Sebagai seorang dengan jabatan tertinggi di sebuah negara, ini termasuk kiat untuk melindungi beliau. La, apakah Ba’asyir ini memikir, bahwa dia seorang yang begitu istimewanya, sehingga bisa datang pergi seenaknya ke istana negara? Apakah dia menganggap dirinya sebegitu penting, sehingga dia mengharapkan, bahwa SBY meninggalkan tamu negara untuk ngobrol dengannya sambil minum kopi?

2. Apakah Ba’asyir lupa atau tidak mau tahu, bahwa Indonesia sampai saat ini masih bukan negara Islam, jadi yang berlaku ialah UUD 45 dan Panca Sila? Kalau Presiden memimpin negara dengan hukum Islam (maksudnya mungkin Syariah), bagaimana dengan UUD 45 dan Panca Sila? Hapus saja? Dan adil makmur itu maksudnya apa? Adil makmur untuk siapa? Apakah adil, kalau yang bukan muslim diharuskan tunduk ke hukum Islam?

3. Jadi, ini pengertian saya, semua bencana di Indonesia ini akibat hukuman Allah? Lalu siapa yang berbuat salah? Rakyat kecil atau yang besar-besar? Kalau gitu kok yang kena kebanyakan rakyat kecil? Adilkah ini?

4. Siapa ya di sini yang kurang ajar ???? Inikah sopan santun yang termasuk kebudayaan Indonesia yang dulu pernah dibanggakan? (Ooops, maaf, Ba’asyir kalau nggak salah bukan Indonesia asli,ya?) Bolehkah di Indonesian seorang mengurang ajarkan seorang Presiden di muka umum????

5. Kenapa tidak ada yang berani bilang terus terang: “Siapa sih Ba’asyir ini? Dia anggap dia tuh siapa???” Tetapi malahan mengucapkan alasan-alasan yang seolah-olah meminta maaf. Terbalik nggak dunia ini?

Tapi mungkin reaksi ini ya cuma karena saya nggak ngerti situasi di Indonesia saat ini saja. Jadi saya harap ada rekan-rekan yang bersedia menjelaskannya.

Matur nuwun.

48 Balasan ke Baa’syir in action

  1. helgeduelbek mengatakan:

    Menurut saya, sebenarnya budaya mengingatkan itu baik-tidak salah, hanya perlu saat yang tepat. Mengenai penerapan hukum Islam bisa saja diterapkan tentu tidak semua, mungkin bagi penganut agama lain malah lebih geram barang kali kalau punya pandangan serupa, salahnya presiden tidak menerapkan hukum kristen atau hukum budha atau hukum hindu atau hukum agama lain. Jadi sebenarnya bukan masalah hukum islam atau bukan islam. Tapi hukum dengan nafas norma-norma yang biasa diterapkan dalam suatu agama itu memang sangat positif.

    Saya tidak membala siapapun tapi mungkin Ba’asyir itu merasa berkewajiban saja sebagai sesama muslim untuk mengingatkan saudaranya. Hanya saja mungkin dia tidak tahu bahwa saudaranya yang akan diingatkan itu sebenarnya sudah tahu persis. Mungkin yang mau diingatkan sedang mencari strategi untuk bisa mengenakkkan semua pihak.

    Saya tidak tahu banyak soal pemerintahan, dan juga soal Ustadz Ba’asyir. Tapi semestinya semua pihak harus berpikir jernaih mencari jalan yang terbaik. Tidak S.O.K, tidak mengira baju yg dikenakan cocok dipakai orang lain. Tidak menarik garis sejajar orang lain dengan dirinya.

  2. tukangkomentar mengatakan:

    helgeduelbek,
    menurut saya hukum dan undang-undang yang saat ini “berlaku” sudah cukup baik kalau dilihat secara umum, karena memang sudah berdasarkan keTuhanan dan kemanusiaan, bahkan ada aspek-aspek humanismenya. Masalhnya semuanya itu hanya diterapkan kebanyakan (atau sebagian?) dibibir atau di atas kertas saja dan sebagai fundasi negara dan masyarakat masih sering dibiarkan dilubangi di bawah di sana-sini.
    Kalau hanya salah satu agama dijadikan landasan pemerintahan (yang realistis ya agama Islam, kan?), bukankah akan menimbulkan ketidak-puasan agama atau golongan lain? Kalau mau mengambil inti dari semua agama untuk disatukan menjadi panutan pemerintahan, yah, seumur kita nggak akan ngalami lagi, dah! Karena pasti nggak akan tercapai suatu konsens.
    Yang mengganggu saya mengenai masalah ini (Ba’asyir in action), ialah caranya bertindak. Seolah kalau dia datang, semua harus mbungkuk-mbungkuk memonggoi dia.
    Apalagi kalau kita baca berita-berita mengenai statemen-statemennya yang lalu, yang kebanyakan berbau fanatis-fundamentalis, kan kita bisa mengira ke arah mana maunya dia, kan? Lagi pula kalau menurut saya caranya dan ucapannya itu tidak menghargai seorang pimpinan negara.
    Saya setuju, bahwa semua pihak harus mencari jalan keluar dengan pikiran jernih tanpa memaksa orang lain memakai baju yang sama dengan dirinya sendiri. Tetapi apakah anda percaya, bahwa Ba’asyir mampu berpikir jernih dalam konteks ini? Atau berpikir secara tidak memihak?

    “Mungkin yang mau diingatkan sedang mencari strategi untuk bisa mengenakkkan semua pihak.”
    Saya pikir juga begitu. Saya pikir memang sulit untuk memimpin sebuah negara yang (masih) sekuler dan banyak masalah sosial-ekonominya, ya?
    Tapi mungkin Ba’asyir berpikir, bahwa dia lebih mampu? Dengan jalan meniru nabi Musa?

  3. ilham mengatakan:

    Begini, Basyier itu ga up to date aja, ya pikiran ya tindakan. tp mgkn saja punya mental dan itikad baik….baiknya banyak2 yg nasehatin dia sblm dia nasehatin org lain….

  4. sora9n mengatakan:

    Salam kenal,

    (pertama kali komentar di sini🙂 )

    Kalau kesan saya, beliau (Ba’asyir) memandang bahwa dirinya sedang melaksanakan crusade / misi suci demi kemaslahatan orang banyak; oleh karena itu dia merasa berada di atas sistem yang berlaku. Oleh karena itu, wajar saja dia memandang dirinya sendiri sebagai “hendak menyampaikan kebenaran”.

    Niatnya baik, hanya saja caranya menantang arus (menurut saya sih).

    Untuk no.1 dan 2, saya rasa berhubungan dengan yang saya tuliskan di atas. Jadi, sang ustadz merasa hendak menyampaikan risalah yang (menurut beliau) paling benar, sehingga beliau merasa wajar untuk melangkahi sistem.

    Untuk no. 3, bukan hanya Islam; saya rasa semua orang yang dogmatik akan berkata begitu. Entah dia itu Muslim, Kristen, atau lainnya, kalau dia malas berpikir, di aakan menggampangkan begitu saja: semuanya karena Tuhan sedang menegur bangsa ini. Padahal, dalam Al-Qur’an ad suatu ayat (lupa ayat berapa😛 ): “Sesungguhnya kesulitan2 yang menimpa kamu hanyalah akibat perbuatan kamu sendiri”.

    Jadi, membangun tanpa amdal adalah perbuatan kita juga; banjir, ya itulah akibatnya. Tuhan (dalam Islam) sebetulnya sudah mengingatkan untuk hati2 berbuat, tapi entah mengapa banyak muslim yang berpikir “bencana karena kita menjauh dari-Nya”…😦

    Untuk no. 4, saya rasa ini juga terkait dengan perasaan crusade-nya beliau. Dikiranya beliau hendak menyampaikan risalah kebenaran, eeh malah ditolak. Mungkin itu sebabnya beliau naik pitam dan berkata demikian.🙄

    Adapun untuk no. 5, ada dua kemungkinan:

    Pertama, mungkin karena orang Indonesia (umumnya muslim) masih terbiasa dengan yang namanya “takut kualat”, sehingga tidak berani terang-terangan menentang sang “kiyai”. Kedua, mungkin juga mereka khawatir bisa memicu bentrokan dengan massa pendukung sang Ustadz jika sanggahan yang disampaikan kelewat tegas dan ofensif. Bagaimanapun, ini cuma sejauh yang saya lihat saja, boleh jadi ada kemungkinan lain lagi mengenai hal ini.

    Eh, udah kepanjangan. Yaah, rasanya begitu sih kalau menurut saya; mohon diluruskan kalau ada yang salah dari tanggapan ini.🙂

  5. tukangkomentar mengatakan:

    ilham,
    mental yang baik kan nggak berguna kalau tidak didampingi keluasan berpikiran dan toleransi? Dan apakah anda percaya, bahwa Ba’asyir itu seorang yang toleran dan berpandangan luas? Mungkin memang harus banyak yang menasehati dia. Tapi dia mau mendengar siapa??? Kita?? Hmm, mungkin, ya?🙂

    sora9n,
    mungkin saja niat Ba’asyir baik. tetapi baik untuk siapa? Apakah anda pernah mendengar atau membaca statemen-statemennya tentang agama lain?
    Memang orang-orang yang dogmatis dari agama lain mungkin berpikir sama, tetapi mereka kebanyakan tidak berani gembar-gembor gitu, kan? Minoritas, kan? Jadi nggak punya lobby (baca: pengikut massa), kan?
    Seharusnya kan kalau Ba’asyir itu memang seorang yang baik dan berdedikasi untuk Indonesia, ya pikirkan dong yang lain.
    Itulah, bencana itu bukan hukuman dari Tuhan (banjir di Jakarta dsb.), tetapi karena yang bertanggung jawab tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk yang ada, baik dari agama maupun dari ilmu pengetahuan.
    terakhir: kebenaran apa sih yang menurut anda atau rekan-rekan sudah diketemukan oleh Ba’asyir yang mau disampaikannya kepada Presiden?

    salafyindonesia,
    salam kenal juga.

  6. Arif Kurniawan mengatakan:

    Hehehe… ada-ada saja Pak Ba’syir itu. Hehehe. Lucu juga beliau.
    Sayang, beliau pasti menolak, apabila saya anjurkan main di srimulat.
    hehehe…

  7. tukangkomentar mengatakan:

    Ah, jangan gitu mas Arif ….
    Kalau Srimulat bangkrut kan kasihan?? 🙂

  8. sora9n mengatakan:

    @ tukangkomentar

    mungkin saja niat Ba’asyir baik. tetapi baik untuk siapa? Apakah anda pernah mendengar atau membaca statemen-statemennya tentang agama lain?

    Jika Anda tanyakan ke beliau, beliau (hampir pasti) akan menjawabnya “untuk kebaikan seluruh manusia, karena agama saya yang paling benar“. Tapi, perlu diingat bahwa itu pendapat pribadi dia saja. Islam (menurut pemeluknya), memang agama yang paling sempurna, sebagaimana halnya kaum Kristen memandang agama mereka sebagai yang paling mulia. Apa ada bedanya di sini, antara keyakinan dia dan keyakinan Kristen yang saya gambarkan?

    Dua-duanya sama-sama percaya bahwa agama mereka yang paling baik. Nah, jawaban utk pertanyaan Mas tukangkomentar yang tadi mungkin bisa diringkas seperti ini:

    “Untuk yang satu haluan dengan dia”. Saya sih tidak satu haluan dengan dia, dalam hal caranya yang mengkurangajarkan pemimpin (yang notabene satu iman), atau sikapnya yang memandang “Islam” sebagai benar sendiri. Yang jelas, “baik”-nya dia bukan untuk saya dan orang-orang yang pro-toleransi antarumat beragama.🙂

    Soal pandangannya terhadap umat lain, saya belum baca. Umm, bisa berikan link-nya? Atau rujukan lainnya juga boleh sih.🙂

    mereka kebanyakan tidak berani gembar-gembor gitu, kan? Minoritas, kan? Jadi nggak punya lobby (baca: pengikut massa), kan?

    Nah, itu dia. Sejujurnya, saya tidak setuju dengan cara beliau mengungkapkannya. Pada saat ini, agama yang ada di Indonesia bukan hanya Islam saja. Tetapi, kenapa lebih banyak aktivis muslim, yang fanatik-dogmatik, berani bicara lantang? Tak lain karena mereka punya dukungan massa yang kompak. Bukan semua muslim memang, tapi ada sebagian muslim yang over-loyal dan mengabaian nilai2 kebaikan yang mungkin terkandung dlm agama lain.

    Seandainya yang punya basis massa mayoritas adalah umat lain, e.g. Kristen/Hindu/Buddha, sudah tentu para aktivis muslim-radikal tidak berani bicara lantang. Tetapi, perlu dipertimbangkan: jika agama lain yang menjadi mayoritas, apa bukan umat agama tersebut yang jadi fanatik-dogmatik dan berani menyuarakan pendapat dengan keras?

    Seharusnya kan kalau Ba’asyir itu memang seorang yang baik dan berdedikasi untuk Indonesia, ya pikirkan dong yang lain.

    Bukan, beliau lebih berdedikasi untuk “Islam”-nya beliau dulu, baru kemudian Indonesia. Makanya (dugaan saya) hal pertama yang terlintas di benak beliau untuk memperbaiki negara adalah “syariat Islam”.

    Seandainya beliau adalah aktivis Kristen militan, saya kira beliau malah akan mengedepankan ajaran Yesus Kristus untuk memperbaiki negara ini…

    terakhir: kebenaran apa sih yang menurut anda atau rekan-rekan sudah diketemukan oleh Ba’asyir yang mau disampaikannya kepada Presiden?

    Saya tidak tahu kebenaran apa yang dipikirkan oleh Ba’asyir untuk disampaikan pada Presiden, karena cara pandang saya belum tentu sama (atau malah sama sekali berbeda) dengan beliau. Tapi, jika Anda bertanya apa yang membuat saya yakin pada kebenaran Islam, maka bisa saya uraikan berikut ini:

    (sebelumnya, mohon maaf kalau bakal jadi kepanjangan😛 )

    Pertama, bukti2 sains yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an ternyata bersesuaian dengan data2 penelitian empirik. Contoh:

    Al An’am 125.
    ” …Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”

    Menunjukkan bahwa kesulitan bernafas akan terjadi semakin tinggi suatu daerah. Seperti umum diketahui, kadar oksigen semakin tipis pada permukaan yang semakin tinggi (e.g. puncak gunung, dll).

    Contoh lainnya masih ada lagi, tapi saya kira cukuplah satu saja (karena bisa penuh komentar ini🙂 )

    Kedua, Islam tidak mengajarkan untuk memandang rendah agama lain. Di masa Nabi Muhammad, kaum yang sudah memeluk agama Yahudi atau Nasrani tidak dipaksa memeluk Islam, karena kedua agama tersebut dipercaya sebagai satu akar keimanan dengan Islam. Pada dasarnya, ketiga agama tersebut mempercayai monoteisme (Kristen sebelum konsili Nicea th 381 belum memandang Kristus sebagai putra Tuhan), dan memiliki leluhur yang sama — Nabi Ibrahim. Dalam Islam, Ibrahim diceritakan sebagai Nabi yang mencari kebenaran Tuhan yang Esa, dan dari dialah embrio agama-agama Tauhid (monoteis) semitik dikembangkan.

    Ketiga, Islam menghargai persamaan derajat. Khalifah Islam Umar bin Khaththab pernah bertarung di pengadilan melawan seorang Yahudi miskin. Dan ternyata kadi (hakim agama) memenangkan Yahudi tersebut, karena memang hak beliaulah yang dilanggar. Bukan dari agamanya maka Yahudi tersebut dinilai bersalah, malah hak Yahudi tersebut dikabulkan oleh pengadilan Islam.

    Keempat, Islam mementingkan perilaku lemah-lembut terhadap sesama. Contoh-contohnya antara lain hadits “senyum adalah sedekah”; “seorang mukmin (beriman) harus bersikap baik terhadap tetangga di sekitarnya sejauh 40 rumah”, dan lain lagi.

    Satu lagi, Islam mencontohkan dakwah tidak dengan paksaan. Nabi pernah ditanya oleh seorang pemuda, “Ya Rasul, izinkanlah aku berzina!”. Nabi kemudian justru bertanya, bersediakah si pemuda tersebut jika terjadi perzinaan pada ibu, saudara perempuannya, ataupun sepupu perempuannya. Jawaban si pemuda adalah “tidak”, dan Nabi pun menyampaikan: “Begitu pula orang-orang lain. Mereka tidak ingin [zina] itu terjadi pada saudara-saudara perempuan ibu mereka.”

    Umm, kisah lengkapnya bisa dibaca di sini.🙂

    ***

    Jadi, jika Anda bertanya pada saya seperti apa kebenaran yang saya temukan (dan mungkin bukan yang Ba’asyir temukan), maka jawaban saya kurang-lebih seperti di atas.

    Saya tidak tahu apakah Ba’asyir berpikir banyak mengenai pluralitas di Indonesia ini, atau bahwa sistem di Indonesia ini sesuai dengan syariat Islam. Yang jelas, jika Islam yang dia contohkan adalah dengan mengkurangajarkan pemimpin, menabrak sistem yang berlaku, dan percaya bahwa semua bencana adalah semata akibat umat sedang menjauh dari agama… maka cara pandang saya dan beliau memang sangat berbeda. Entah seberapa jauh.

    Maaf kalau jadi terlalu panjang, terima kasih sebelumnya.🙂

  9. tukangkomentar mengatakan:

    sora9n,

    “Islam (menurut pemeluknya), memang agama yang paling sempurna, sebagaimana halnya kaum Kristen memandang agama mereka sebagai yang paling mulia.”
    Ini kan masalah pokoknya? kenapa tidak bisa bilang: “agamaku mulia, demikian juga agamamu. Agamaku baik untukku dan agamamu baik untukmu. Mari berjalan bersama-sama.” ???
    Pada prinsipnya tidak ada yang bisa saya tambahi dari paparan yang anda tulis di atas.
    Cuma: dalam sejarahnya, monoteisme pertam didekritkan (betul-betul diperintahkan) oleh seorang firaun (kalau nggak salah Echnaton) yang memerintahkan rakyatnya untuk hanya menyembah satu Tuhan saja, yaitu dewa Matahari Aton. Inilah yang dianggap permulaan munculnya monoteisme.

    Mengenai kebenaran, ya, salut atas kebenaran yang telah anda ketemukan. Mengenai kebenaran yang diketemukan oleh Ba’asyir, biarlah dinilai nantinya oleh Allah.

    Seperti yang pernah saya tulis di blog lain: kalau melihat jalan pikiran banyak rekan ngeblog, saya masih melihat harapan untuk Indonesia!
    Terima kasih, saya belajar banyak dari anda.

  10. sora9n mengatakan:

    @ tukangkomentar

    Ini kan masalah pokoknya? kenapa tidak bisa bilang: “agamaku mulia, demikian juga agamamu. Agamaku baik untukku dan agamamu baik untukmu. Mari berjalan bersama-sama.” ???

    Iya… memang itulah yang seharusnya kita lakukan. Kita ini siapa sih, sampai bisa begitu yakin bahwa Tuhan hanya sayang pada kita? Kalau hanya sekadar “merasa terbaik” sih semua orang juga bisa.

    Cuma: dalam sejarahnya, monoteisme pertam didekritkan (betul-betul diperintahkan) oleh seorang firaun (kalau nggak salah Echnaton) yang memerintahkan rakyatnya untuk hanya menyembah satu Tuhan saja, yaitu dewa Matahari Aton. Inilah yang dianggap permulaan munculnya monoteisme.

    Wah, saya juga baru tahu soal ini. Adapun yang saya maksud sebelumnya adalah Ibrahim dianggap sebagai pelopor monoteisme Semit; yaitu agama monoteis yg berpusat di Asia Barat/Timur Tengah.

    Soal Echnaton, apakah dia menyembah “dewa Matahari”, atau “Tuhan yang Esa”? Soalnya sejauh yang saya tahu, Ibrahim digambarkan melakukan pencarian “Tuhan” yang esensial, bukan dipersonifikasikan sebagai penguasa matahari. Tapi ini sejauh yang saya tahu saja sih.🙂

    Terima kasih, saya belajar banyak dari anda.

    Saya juga belajar banyak dari Anda kok, terutama dari komentar-komentar Anda di seantero wordpress (lho, sesuai dengan namanya: “tukangkomentar”😀 ). Mudah-mudahan saja semangat yang Anda (dan saya dan rekan2 lainnya juga) kedepankan bisa diterapkan di dunia nyata.😉

  11. juliach mengatakan:

    Salah alamat Si Baasyir itu. Kenapa sowan ke SBY si penganut Pancasila & UUD 45?
    Sebaiknya dia sowan ke Mr. Bin Laden saja, so pasti tdk ditolak.

    Dia ingin sekali mendirikan Negara Islam Indonesia dan back to jaman Musa, aku pikir itu mision imposible. Aku anjurkan dia masuk ke RS Jiwa saja.

  12. tukangkomentar mengatakan:

    sora9n,
    mengenai Echnaton dan Aton,
    bukankah itu hanya sebutan saja untukNya? Echnaton memerintahkan rakyatnya menyembah Tuhan yang disebut Aton dan kita menyebutNya Tuhan/Allah/Yahwe/Manitou atau apa saja. Memang hanya disebutkan, bahwa prinsip monoteismenya mungkin pertama dimulai pada era itu (menurut data-data yang dikenal sebelumnya tidak ada monoteisme). Dan juga menurut teorinya, asal-usul monoteisme yang dibawa Nabi Musa ke tanah israel itu ya dari situ. Katanya, lho!

    juliach,
    kasihan dong!! (kasihan siapa, ya???) 🙂

  13. Sara mengatakan:

    bingun mau komentar apa. sama sperti yang diatas deh.🙂

  14. Paijo mengatakan:

    Kalau memang hanya mau kasih nasehat dan tidak ada maksud lain, kan bisa lewat media masa baik cetak maupun elektronik. Cepat atau lambat pasti nyampai juga ke preseiden. Bigitu saja kok repot.

  15. senyumsehat mengatakan:

    Ya namanya juga usaha pak, kang kombor juga kirim surat ke presiden, aku juga pernah sms presiden, ya mau di tanggapin syukur engga ya udah, namanya kita menyampaikan dengan cinta. Siapa ba’asyir, siapa aku, siapa kang kombor, ga penting sing penting niate apik, buat bangsa dan negara…:-)

  16. erander mengatakan:

    @senyum sehat

    Saya tahu mbak Evy .. Ba’asyir juga manusia, aku juga manusia, kang kombor juga manusia, tukang komentar juga manusia .. semua manusia kok hehehe jadi .. ya gpp lah sama-sama usaha .. mudah2an bisa menjadi lebih baik .. good, good,

  17. tukangkomentar mengatakan:

    Sara,
    nggak usah bingung, senyum pun sudah merupakan komentar! 🙂 8)

    Paijo,
    sebelum memeberi nasehat kepada orang lain kan sebaiknya kita inspeksi dulu diri kita sendiri, kan? Apakah mas Paijo percaya, bahwa Ba’asyir mempunyai kemampuan ini? Dan kalau kita baca, “nasihat” apa yang mau diberikan olehnya kepada pemerintah (baca: presiden), wah, kok ya ………
    Ah, untuk saya sendiri sajalah pikiran ini.

    senyumsehat,
    1. siapa sih Ba’asyir, kok merasa sudah cukup berarti untuk memeberi nasehat kepada SBY? Anda dan kang Kombor kan mungkin cuma mau memberi masukan saja, kan? Atau mengadukan sesuatu? Tapi memberi nasehat? Dengan cara gitu dan dengan isi itu? Wow !
    2. Apa mbak Evy percaya, bahwa maksudnya memang baik untuk seluruh bangsa Indonesia (sekali lagi: seluruh) dan apakah juga untuk negara Indonesia?

    erander,
    Bedanya: Ba’asyir itu manusia yang sudah “terpilih” mungkin ya? Jadi sudah merasa berhak memberi nasihat yang isinya gitu??? 🙂

  18. sora9n mengatakan:

    Wah, jadi rame🙂 .

    @ tukangkomentar

    Kebetulan, sejak diskusi yang lalu, saya mendapat entry wikipedia yang terkait.

    Mengenai Akhenaton/Echnaton yang sedang dibahas; mungkin bisa saya kutipkan sebagai berikut (garis bawah dari saya),

    Amun was identified with Ra, who was also identified with Horus. Akhenaten simplified this syncretism by proclaiming the visible sun itself to be the sole deity, thus introducing a type of monotheism.

    Yang saya maksud sebelumnya, apakah Echnaton menyatakan “Penguasa Matahari”, ataukah “Tuhan” (yang menurut esensi-Nya: Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dll)?

    Memang Echnaton telah merumuskan monoteisme, tetapi monoteismenya adalah penyembahan terhadap matahari (kalau dari kutipan di atas lho, entahlah kalau nanti ada perubahan di wiki😛 ). Meskipun begitu, dibandingkan dengan budaya pagan yang saat itu marak, monoteisasi model Echnaton adalah sebuah loncatan besar . Untuk ini, tampaknya memang dia layak dianggap sebagai tokoh pelopor monoteisme; walaupun konsep ketuhanannya sendiri masih belum secanggih pada masa Nabi Musa.

    Umm, btw, kok jadi ngomongin ini sih? Kita kan lagi ngomongin “Pak Ustadz in Action”?😛

  19. sora9n mengatakan:

    Lho, garis bawahnya kok nggak muncul ya? Maksud saya, bagian yang ini,

    Amun was identified with Ra, who was also identified with Horus. Akhenaten simplified this syncretism by proclaiming the visible sun itself to be the sole deity, thus introducing a type of monotheism.

    Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.🙂

  20. tukangkomentar mengatakan:

    sora9n,
    memang yang dimaksud ya Aton itu, bukan Tuhan atau Allah dalam pengertian kita sekarang ini. Yang saya maksud ya itu, ide monoteisme itu yang merupakan perubahan besar dalam segi spiritual (apapun tujuan echnaton dengan mengeluarkan perintah itu).

  21. wir mengatakan:

    Ingin juga berbagi pendapat.

    Yah itu semua adalah kondisi budaya di sini (indonesia) **sengaja hrf kecil**, dimana budaya lesan lebih dominan daripada budaya tulis.

    Coba aja jika bapake yg dimaksud itu bisa memanfaatkan budaya tulis dan punya sesuatu yang memang patut untuk disampaikan ke presiden (kenapa harus presiden, jika maksudnya untuk kebaikan negara ini khan mestinya juga ke kita-kita ini juga, rakyat, wong kata undang-undang kedaulatan tertinggi di tangan rakyat koq, bukan presiden), khan dapat juga disampaikan secara tertulis. Jika hal tersebut disampaikan dengan baik dan menyakinkan, dan bermanfaat bagi semua orang (tidak hanya segelintir golongan aja) dan ternyata hal tersebut tidak dijalankan oleh yang berwewenang maka akhirnya masyarakat awam tahu siapa sih sebenarnya yang nggak becus itu.

    Moga-moga ini komentar dari sisi lain dan tidak mengkaitkan dengan apa yang disebut iman (agama) seperti yang diatas-atas itu. Koq cenderung naif, bilang ini yang terbaik atu itu yang terbaik. Bahkan mengajukan bukti-bukti ilmiah. Wah kalau itu sih udah lama, sejak ribuan tahun yang lalu, dan saya kira sampai ribuan tahun lagi juga gitu. Nggak usahlah dipertentangkan. Jika memang merasa agamanya terbaik, silahkan bersyukur bahwa anda telah beragama itu, selanjutnya kita nunggu syukurannya apa yang bermanfaat gitu bagi kita lainnya.

    Jangan seperti yang di … di mana tuh yang pakai menggal-menggal kepala segala. Khan kasihan.😦

    Salam sejahtera.

  22. mrtajib mengatakan:

    Semua orang mstinya merasa dirinya penting bagi Indonesia. Krenanya, semua orang mesti berjuang, tentu dengan jalan masing-masing, untuk “membangun” Indonesia.

    Satu sisi, Baasir tu merasa dirinya penting, setidaknya menurut dirinya sendiri. Karenanya dia ingin mengingatkan…….bla- bla..bla…

    Tapi, nilah persoalannya, apa yang dia anggap penting itu…hanyalah bagian kecil dari sekian banyak penting-pening yang lain…dan dia mungkin belum paham……

  23. sora9n mengatakan:

    @ wir

    Salam kenal,

    Coba aja jika bapake yg dimaksud itu bisa memanfaatkan budaya tulis dan punya sesuatu yang memang patut untuk disampaikan ke presiden (kenapa harus presiden, jika maksudnya untuk kebaikan negara ini khan mestinya juga ke kita-kita ini juga, rakyat, wong kata undang-undang kedaulatan tertinggi di tangan rakyat koq, bukan presiden), khan dapat juga disampaikan secara tertulis.

    Memang betul, budaya tulisan tetap tertinggal di Indonesia daripada budaya lisan. Meskipun begitu, Ba’asyir dalam contoh di atas tetap saja salah. Seandainya beliau memang hendak berbicara langsung dengan Presiden, maka harusnya beliau bisa mengatur pertemuan; kontak dengan protokol istana, dan sebagainya.Sayangnya, beliau tampaknya merasa berada di atas sistem, jadi kesannya beliau memang sengaja menantang arus.

    Nggak usahlah dipertentangkan. Jika memang merasa agamanya terbaik, silahkan bersyukur bahwa anda telah beragama itu, selanjutnya kita nunggu syukurannya apa yang bermanfaat gitu bagi kita lainnya.

    Iya, memang begitulah seharusnya. Tak usahlah kita berpikir (apapun agama kita) bahwa hanya kita yang “benar sendiri” dan “disayang Tuhan”, sementara yang lainnya salah. Semua agama itu mengajarkan kebaikan; sayangnya banyak diantara orang Indonesia sendiri (e.g. di Poso & Ambon) yang malah bertikai demi agama. Hal yang ironis, terutama jika mengingat bahwa semboyan negara ini “Bhineka tunggal Ika”.😦 .

  24. kumala mengatakan:

    NKRI tuh negara yang berajalan sesuai kebenaran agama islam, kristen, katholik, budha, dll, bahkan yg ber-kepercayaan aja juga boleh menyarakan kebenarannya. lha wong jelas2 ada pasalnya, kok, di UUD 45. boleh menganut agama, boleh kepercayaan doank. dulu sih, di KTP, tiap warga negara, boleh nyantumin: kepercayaan, bukan agama. entah kenapa tiba2 kepercayaan jadi menghilang.

    jadi, NKRI ini tidak menganut kebenaran dari agama islam thok. tapi juga agama2 lain & kepercayaan2 yg pernah tumbuh di negara ini.

    nha, klo baasyir mo menerapkan kebenaran islam versia dia doank, ya udah, sana beli pulau sndiri, bikin negara sendiri, trus terapin kebenaran versi dia. bebas, klo mo mengimplementasikan negara sesuai yg dia cita2kan sejak semula. rakyat RI yg tertarik, boleh ntu ikut pindah ke negara hasil jerih payah & keringat serta uang nya baasyir.

  25. Alief mengatakan:

    Paling-paling Baasyir pingin pamornya meningkat lagi, maka cari sensasi… Dan akhirnya cak Baasyir pun mendapatkannya.

  26. tukangkomentar mengatakan:

    Wir,
    masalahnya kalau nurut saya bukan lisan atau nggaknya, tapi caranya dan reaksinya itu lho!
    Seperti orang yang mau masuk rumah anda nggak pakai ngetok pnitu atau permisi dulu trus anda tolak dan kemudian memaki anda kurang ajar. Wah, wah!
    Mengenai isinya, yah, kalau dari seorang yang pasti masuk surga ya kan pasti bagus. Berguna atau nggaknya itu kan hal lain?🙂

    Mrtajib,
    ingat nggak, Napoleon dulu juga menganggap dirinya sebagai jendral terbesar di dunia ini?🙂

    sora9n,
    dalam dunia kecil saya kok bisa jalan, ya? Teman-teman saya ada yang muslim, ada yang kristen, agama/kepercayaan parsi, hindu, buda, konghucu dsb., dan kami kok rukun? Mungkin kami yang salah dan nggak ngerti ajaran agama kami masing-masing, ya?🙂
    Memang menyedihkan sering dunia ini, ya??!!
    Mengenai “Bhinneka Tunggal Ika”: kan ada sekelompok orang yang mau “menyeragamkan ” Indonesia, ya?

    mbak kumala,
    salam kenal.
    Sebaliknya ada ulama di Aceh (kalau nggak salah) yang bilang: Kalau ada yang nggak setuju, bahwa syariah diterapkan di Aceh, ya silakan pergi saja.
    Gimana ini??

    Alief,
    dan akhirnya Indonesia akan menjadi ………., dengan Ba’asyir sebagai ……..

  27. sora9n mengatakan:

    @ tukangkomentar

    Teman-teman saya ada yang muslim, ada yang kristen, agama/kepercayaan parsi, hindu, buda, konghucu dsb., dan kami kok rukun? Mungkin kami yang salah dan nggak ngerti ajaran agama kami masing-masing, ya?🙂

    Bukannya justru sudah benar tuh? Kan saya bilang,

    Tak usahlah kita berpikir (apapun agama kita) bahwa hanya kita yang “benar sendiri” dan “disayang Tuhan”, sementara yang lainnya salah. Semua agama itu mengajarkan kebaikan…

    Kan?😉

    Memang menyedihkan sering dunia ini, ya??!!

    Mungkin memang begitu adanya… (T_T) tapi dunia yang Anda sebut cukup menyenangkan kok. Saya rasa Anda cukup beruntung soal ini.🙂

    Mengenai “Bhinneka Tunggal Ika”: kan ada sekelompok orang yang mau “menyeragamkan ” Indonesia, ya?

    Karena merasa dirinya *paling* benar? Mungkin… tapi yang ini saya nggak ikut-ikutan lho.🙂

  28. kumala mengatakan:

    salam kenal juga🙂

    “mbak kumala,
    sebaliknya, ada ulama Aceh yang bilang: kalau ada yang nggak setuju syariah diterapkan di Aceh, ya silahkan pergi saja.”

    mas tukang komentar,

    saya cuma bisa melihat fakta. kenapa Irwandy-Nazar bisa memenangkan pemilu di Aceh? Kenapa bukan pasangan ulama yang menjadi pilihan terbanyak temen-temen di Aceh? padahal penegakan formalisasi syariat islam di aceh tengah giat-giatnya?

    Ini menurut saya, karena rakyat aceh, sebenarnya bukanlah penganut islam ortodox. sodara2 kita di aceh itu adalah masyarakat terbuka sejak jaman dahulu kala. tidak ada foto pemimpin aceh yg make jilbab. tentu saja ini bukan berarti mereka gak memahami ajaran islam. krn pejuang legendaris Cut Nyak Dien, menutup hidupnya sbg guru ngaji dan seni baca alquran.

    jadi ucapan ulama aceh tsb di atas, perlu dipertanyakan. Atas dasar apa: mengusir rakyat aseli aceh? Benarkah dia mewakili keinginan masyarakat aceh secara umum?

  29. xwoman mengatakan:

    🙂 PEACE…. SUMPAH PEMUDA euy…

  30. tukangkomentar mengatakan:

    sora9n,
    memang menurut yang saya ngerti anda nggak termasuk dalam kelompok orang-orang “penyeragam” itu.
    Marilah kita coba bagi-bagi pandangan kita dengan rekan-rekan lain, siapa tahu ini menular sekali!

    mbak Kemala,
    sejak lama saya mengikuti perkembangan Aceh, dan dulu senang membaca kisahnya dari awalnya sebagai serambi Mekah.
    Kefanatikan seperti yang ditunjukkan oleh beberapa ulama dan orang-orang politik saat ini, memang mungkin suatu fenomena baru.
    Tentang Cut nya Din saya selalu menghormati perjuangan beliau dan beliau untuk saya bukan seorang fanatik agama.

    xwoman,
    Satu, bangsa, satu bahasa, satu agama???🙂

  31. xwoman mengatakan:

    bukan satu agama….. maksute ….walah kok jadi pusing gini sech

  32. tukangkomentar mengatakan:

    xwoman,
    saya ngerti maksudnya, eh, cuma iseng, kan banyak yang maunya gitu (tapi nggak termasuk anda!). 🙂

  33. MaIDeN mengatakan:

    “Merasa ditolak, Baa’syir mendatangi gedung DPR dan mengadu ke Zaenal Ma’arif yang Wakil Ketua DPR itu dan memintanya untuk mengingatkan Presiden atas kekurangajaran ini.”

    Berani taruhan, kata “atas kekurangajaran ini.” adalah tambahan wartawan/editor.

  34. passya mengatakan:

    SBY Ba’asyir dan Saya sama gebleknya….lho..😀

  35. tukangkomentar mengatakan:

    MaIDeN,
    mungkin saja, tapi siapa sih Ba’asyir itu kok mau memberi nasehat kepada presiden? Nasihatnya gitu lagi (harus memimpin negara sesuai dengan hukum Islam)! Lalu yang lain bagaimana? Mungkin saya juga bisa minta ketemu untuk memberi nasehat: harus memimpin negara sesuai dengan aturan Kejawen?🙂

    passya,
    sama, saya juga. Makanya saya mau ketemu SBY untuk ngasih nasehat.

  36. calonorangtenarsedunia mengatakan:

    ah,pertama kalinya daku komen di sini,,
    salam perdamaian..*apa seeh…*

    kalo menurut saya sih sebenernya ya pikiran pak ustadz itu yg blm maju,, sebuah kebenaran baru bisa jadi kebenaran kalo diakui oleh orang banyak sebagai kebenaran,,
    *pusing ya…sama.*

    buat dia kan syarian islam adalah kebenaran yg mutlak, ya jadilah syariat islam itu sebuah kebenaran untuk orang islam,,soalnya umat islam kan sepakat sm kesempurnaan syariatnya,,

    begitu juga umat2 agama lain,

    tapi ya lantas ga bisa salah satu agama dijadikan kebenaran untuk semuanya,, karena banyak yg tidak sepakat,,

    dan lagi, sepertinya kita perlu memberikan sedikit pengetahuan sosiologi pada pak ustadz,, ilmu masyarakat menyatakan bahwa revolusi terjadi bukan karena rakyat kecil yg menginginkan dan melakukan perubahan,,tapi karena adanya sedikit kaum elite yg mengompori rakyat yg banyak itu,,

    elite adalah orang yg memiliki kualifikasi di atas rata2 dan mampu memimpin serta mempengaruhi banyak orang,,

    kalo pak ustadz blm bisa mempengaruhi SELURUH rakyat indonesia untuk sepakat, ya blm elite donk,,:-)

    berarti blm bisa bikin revolusi,,

    *gw ngomong apa sih..suka ga jelas gini..*

  37. tukangkomentar mengatakan:

    calonorangtenarsedunia,
    salam kenal dan selamat datang di blog ini.
    Justru karena dia merasa sudah elite, maka dia merasa “bertanggung-jawab” atas nasib “seluruh” rakyat Indonesia dan merasa harus menasehati Presiden dan (mungkin) pemimpin-pemimpin negara lain (dengan cara apapun). Karena merasa elite itu, dia merasa berhak nemui presiden tanpa perjanjian dulu dan merasa dikurang-ajari, kalau ditolak.
    Mengenai isi “nasehat”nya, nggak usah kita debatkan di sini aja ya, nanti jadi rusuh antar agama lagi. 🙂

  38. rbokx mengatakan:

    Good site!!!

  39. tukangkomentar mengatakan:

    rbokx,
    thanks!!

    49,
    tapi yang salah juga manusianya, kan, bukan candunya? Candu kalau dipergunakan dalam dosis tertentu kan bisa dijadikan obat. Cuma manusia aja yang macam-macam!

  40. calonorangtenarsedunia mengatakan:

    om tukangkomentar,,
    emang nasehatnya apa sih?
    ga bakal rusuh antar agama kok,,
    oom wadehel kan pny tips mudah mencegah rusuh antar agama, jadi kita tinggal tanya aja,,hehe47x…

    nah, soal ba’asyir. itu kan dia yang merasa elite, bukan pada faktanya dia memang elite. jadi ya itu sih perasaannya si mbah saja,,

    suka kegeeran deh dia,,

    *kabur ah sebelum dibakar rumahnya*

  41. tukangkomentar mengatakan:

    calonorangtenarsedunia,
    kalau cuma rumahnya dibakar kan bisa bangun lagi. Tapi kalau digebukin sampai mampus, kan kasihan yang nggebuki (masuk neraka, kan? Atau ….. malah masuk surga?? 🙂 )

  42. Lily mengatakan:

    Wah iya lucu bgt tuh Pak Ba’asyir.. ;p

    Aku kok malah jadi skeptis ya,
    gak mungkin lah dia gak tau prosedur yg benar dalam menemui Presiden,
    dan klopun dia gak tau,
    masa iya orang2 di kiri-kanannya tidak ada yg memberi tahu ketika beliau melontarkan ide untuk mendatangi Presiden SBY. (Ataukah dia datang sendirian, dan gak bilang siapa2.. ;p)

    Terus terang..,
    pikiran (skeptis-ku..) malah berpikir (lagi2..) ini salah satu upaya cari popularitas.
    Lha klo niatnya memang baik,
    ketika tidak berhasil menemui Presiden secara langsung (yang dikarenakan memang tidak sesuai dengan prosedur..),
    mbok ya legowo trus pulang tanpa rasa dendam dan keinginan untuk menghujat (yg diwujudkan dengan ngadu2 ke DPR itu..).
    Toh niatnya sudah tersampaikan secara tidak langsung,
    malah mungkin jadi bukan cuma nasehat searah tapi nasehat ke segala arah..
    (niatnya nasehat cuma ke Presiden aja, tapi jadi bisa disupervisi oleh seluruh rakyat Indo berhubung disorot wartawan yg memang setia ada di Istana..).

    Trus soal respon DPR dan pejabat2 lainnya..,
    masalahnya Ba’asyir ini ya seperti yang diceritakan sendiri tadi,
    ulama, pimpinan pesantren, tokoh agama, malah mungkin beneran punya barisan siap mati..
    Kan memang kecenderungan masyarakat agamis yang fanatik rela menumpahkan darah bila agama/pemimpin agamanya dilecehkan..

    Jadi ya reaksi itu, adalah reaksi cari aman.
    Baik cari aman untuk diri sendiri, posisi, maupun secara stabilitas negeri..🙂

    Wah, jadi panjang bgt ini ya.. ;p

  43. tukangkomentar mengatakan:

    Lily,
    menurut Zarkarsih (lihat di sini:
    http://www.antara.co.id/arc/2007/6/15/polri-tangkap-pimpinan-jamaah-islamiyah-atasan-abu-dujana/)
    ABB itu pernah jadi pimpinan Jamaah Islamiyah (kalau nggak salah 2000 – 2002).
    Kalau ini betul, pikir sendiri saja nasihat apa yang dianya ingin sampaikan ke SBY.
    Mungkin ……
    Ah, nggak ah.
    Tentu saja dia tahu prosedurnya. Cuma dia mungkin merasa sebagai ABB nggak perlu lewat prosedur itu kali, ya?
    Kan orang penting, lebih penting dari SBY, lebih penting dari tamu-tamu negara.
    Boleh-boleh saja lah mikir gitu, ini kan negara demokrasi (apa iya?). Asal jangan mikir, bahwa diri kita lebih penting dari Yang Mencipta.
    Gitu, kan?

  44. ningrachman mengatakan:

    Orang itu harus adil… menempatkan sesuatu pada tempatnya…
    manakala sesuatu tidak ditempatkan pada tempatnya *dalam skala besar* bakal menjadi bencana buat kita…
    ———————————
    adil « menempatkan sesuatu pada tempatnya « bisa juga diartikan dengan melakukan sesuatu hrs dg caranya… « bisa juga diartikan membuka pintu dengan kuncinya… « bisa juga diartikan berbicara sesuai dg siapa yg kita hadapi… « bisa juga diartikan… waaahhhh…. bisa jadi panjang nih makna adil itu…🙂
    ———————————
    back to topic:
    dalam kasus Ba’asyir… sebetulnya adalah cerminan diri kita sendiri…
    biarlah Ba’asyir menjadi Ba’asyir… tapi yg penting bagaimana dg kita sendiri…
    bermula dari tema Ba’asyir yg diangkat dalam postingan ini, mari bersama kita mengkaji diri… sama-sama mengkoreksi… *kalau ada yg berhianat, yaa kita keroyok sama-sama…*😀 hehe……
    ———————————
    ini analisa saya… *dg asumsi cerita Ba’asyir itu benar…*

    1] kita sudah tahu, bahwa adil, bisa diartikan masuklah dg cara yg benar… mau bertamu ke rumah orang, ya harus lewat pintu depan… so, apa motivasi Ba’asyir dg masuk pintu belakang…? Apakah itu dibenarkan…? Siapa yg mau rumahnya dimasuki orang dari pintu belakang…?

    2] terlepas maksud dan tujuan si Ba;asyir benar… *menurut dia*… tetap saja orang hidup bermasyarakat itu harus punya aturan… siapa yang tidak mau diatur, yaa silahkan tinggal di hutan bebas…😀
    ————————–

    dari kasus Ba’asyir yg diangkat oleh postingan ini, saya *secara pribadi* belajar sesuatu…
    bahwa, hidup itu memang hrs diatur, supaya teratur, dan jangan ngawur…
    anak kecil hrs diatur oleh orang tuanya…
    orang tuanya harus diatur oleh masyarakatnya dalam hubungan sosialnya…
    masyarakat harus diatur oleh pemimpinnya dalam skala organisasi…
    pemimpin hrs diatur oleh pemimpin yang lebih tinggi dalam konteks negara,
    pemimpin negara hrs diatur sama PENGUASA dan PENCIPTA BUMI tempat negara itu berada…
    pertanyaan selanjutnya adalah… siapakah PENGUASA MUTLAK BUMI yang kita pijak ini…????
    Apakah DIA benar-benar mengatur kehidupan kita…?
    Apakah DIA telah memberi petunjuk bagaimana cara menerapkan aturan-aturan-NYA itu…?
    Melalui apa…????
    Melalui siapa…????
    Apakah aturan-aturan-NYA itu lengkap…?
    Dari mulai bawah sampai atas…?
    dari kanan sampai kiri…?
    dari atas sampai bawah…?
    dari dulu sampai sekarang…?
    dari muda sampai tua…?
    dari rendah sampai tinggi…?
    dari bodoh sampai pintar…?
    dari hidup sampai mati…?
    ———————–
    saran saya *secara pribadi lagi lho… :)*
    carilah DIA……
    DIA-lah Sebaik-baik Pemimpin…
    DIA-lah Sebaik-baik yang mengatur kehidupan kita…
    DIA-lah PENCIPTA, DAN PEMILIK MUTLAK HIDUP DAN KEHIDUPAN INI…

    =SALAM= SEMOGA BERMANFAAT……🙂

    ———-
    btw: salam kenal utk semuanya…🙂
    *sambil memberikan air putih yg diambil langsung dari mata air yg belum tersentuh oleh manusia…*

  45. Wahyudi mengatakan:

    Ada apa di blog ini dengan teroris muslim Ba’asyir?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: