Wong apik, wong elek. Neraka untukmu, surga untukku?

Orang yang bagaimanakah sebetulnya orang yang baik?
Haruskah dia beragama? Dan apakah kalau beragama/berkepercayaan secara taat dia automatis bisa langsung dikategorikan sebagai seorang baik? Kalau tidak beragama, apakah dia langsung bisa dicap orang jelek? Jahat? Laknat? Seperti setan penghuni WC? Neraka untuknya? Takdirnya berenang dalam air comberan? Ataukah bisa juga dia seorang yang baik? Penuh kasih dan toleransi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas akan saya bahas dalam posting lain.

Posting ini ialah ekspresi pemikiran saya pribadi mengenai perjalanan hidup. Bagaimana seseorang sebaiknya melakukan sesuatu, tidak peduli dia seorang yang beragama, seorang yang berkepercayaan atau seorang yang tidak menyembah siapapun. Karena ini bagi saya merupakan pendukung untuk mengerjakan sesuatu dengan baik dan ini merupakan salah satu langkah pertama untuk menjadi seorang yang baik.

Menurut kepercayaan yang saya ikuti dan menurut sanubari saya, sebelum melakukan/melaksanakan sesuatu pekerjaan atau aksi, kita harus melalui langkah-langkah berikut ini: “membaca”, merasakan, bertanya dan mengerti, meneliti/menyimaki pengertian yang kita peroleh kemudian melaksanakan dan setelah itu “menengok lagi ke belakang”. Saya sengaja tidak mencantumkan “berdoa”, karena hal ini untuk saya adalah sesuatu yang mutlak dan tidak perlu diperdebatkan, biarpun cara berdoa atau bersyukur tentu berbeda-beda.

1. Kenapa saya tulis “membaca” dalam tanda kutip?
Karena maksud saya membaca bukan hanya membaca tulisan saja, tetapi juga “membaca” keadaan, lingkungan, situasi dll., dan tentu saja “membaca” sesama manusia yang terkait dengan pekerjaan atau aksi tersebut. Tentu saja penting juga membaca sumber tuntunan yang kita percayai. Al Qur’an untuk Islam, Injil untuk Kristen dst. Bagi agama atau kepercayaan yang tidak mempunyai guidelines tertulis, ya sumbernya adalah pengalaman-pengalaman para pendahulu (yang biasanya juga harus disimaki dengan sangat berhati-hati).

2. Merasakan: karena menurut sistem kepercayaan saya, “rasa” itu tidak kalah pentingnya dengan yang lain, bahkan kadang “rasa” itu bisa meluruskan akal yang keblinger.

3. Setelah itu, mungkin ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hati, maka kita seharusnya bertanya-tanya untuk melengkapkan penerangan jalan yang akan kita tempuh. Tidak usah saya tulis lagi, kenapa kita harus berhati-hati juga dalam menerima dan meresapi jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan.

 

4. Langkah selanjutnya, kalau menurut jalan hidup saya, menyimaki „pengertian“ yang kita peroleh itu. Apakah betul? Apakah ada yang masih harus diperhatikan? Terkadang masih ada saja batu sandungan yang tersembunyi di balik selembar daun dan masih bisa membuat kita jatuh.

5. Sekarang tentu saja datang giliran pelaksanaannya. Selama proses pelaksanaan tersebut, tentu saja kita tidak boleh mengabaikan, bahwa masih ada kemungkinan kesalahan yang masih terselip masih bisa diperbaiki atau kesalahan itu sebegitu kecil, sehingga tidak mempunyai pengaruh yang berarti bagi hal ini secara keseluruhan. Jadi kontrol selama pelaksanaan.

6. Pada ujung proses tersebut, sebaiknya kita “menengok kebelakang” sekali –dua kali lagi, untuk melihat, adakah kesalahan yang telah kita perbuat dan tidak terlihat atau adakah sesuatu yang masih bisa diperbaiki. Semua ini penting untuk bekal langkah-langkah di hidup selanjutnya.

7. Semua itu tentu saja tidak terlepas dari kemurahan “Yang menciptakan kita“, baik Beliau kita sebut Allah, Brahma, Manitou, Thian, Tuhan atau apapun. Karena itu berdoa atau bersyukur merupakan landasan yang pokok bagi langkah-langkah kita. Tanpa dialog dengan yang Maha Kuasa, seolah kita melangkah di rawa-rawa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita lihat banyak penganut-penganut agama atau kepercayaan-kepercayaan yang mengutamakan pelaksanaan peraturan-peraturan atau tuntunan-tuntunan yang dianut tanpa menengok ke kanan atau ke kiri. Setiap pertanyaan mengenai aturan-aturan itu dicap sebagai langkah menuju kemurtadan, setiap kritik dipandang sebagai persekongkolan dengan syaitan, setiap perbedaan dianggap sebagai dosa.

Contoh: setiap hari minggu ke gereja bagi kaum kristen, berdoa sebelum dan sesudah makan, dsb. Untuk kaum muslim setiap Jum’at ke masjid, lima kali sehari sholat dsb. Bagi yang pandai juga harus hafal ayat-ayat dalam Al Qur’an atau Injil. Banyak kaum muslim yang merasa harus memakai pakaian tertentu sebagai bukti ibadahnya, sebagai bukti imannya. Sebagai bukti, bahwa dia adalah seorang muslim/muslimah (yang baik).

Maksud saya tentu saja bukan mereka yang betul-betul setulus hati dan dengan segala kesederhanaan (seperti yang diajarkan) melakukan hal-hal itu dan tanpa memamer-mamerkannya serta melaknatkan yang berpendapat lain.

 

Memang aturan-aturan itu harus dilaksanakan dengan tujuan beribadah. Dengan tujuan mendekatkan diri dengan Tuhan atau Allah, untuk „berdialog“ dengan Beliau.

Tetapi, cukupkah semua itu?

Apakah beribadah hanya cukup dengan berdoa di gereja, merayakan hari Natal atau ke Masjid setiap Jum’at dan sholat 5 x sehari?

Apakah hafal Al Qur’an dan bisa menyebut ayat-ayat tertentu dari Injil itu merupakan bukti religiositas seseorang?

Salah satu betuk ibadah, yang menurut saya pribadi malah salah satu yang terpenting, sering diabaikan, bahkan kadang tidak dikenal.

Apakah itu?

„Mencintai semua ciptaan Tuhan“

Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan yang kita lihat dan alami di hidup kita ini. Beliau berbuat sesuatu tidak tanpa tujuan, dan menurut kepercayaan yang kita semua anut (dan sering kita teriakkan): Tuhan atau Allah itu Maha Besar, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Pengampun dst. Tidak pernah saya mendengar atau membaca, bahwa Allah atau Tuhan itu Maha Murka, Maha Kejam, Maha Semaunya, Maha Tanpa Tujuan.

Jadi bukankah tujuanNya pasti tidak negatif atau jahat?

Kenapa kita tidak menghormati tujuan Beliau ini? Kenapa kita setiap hari, setiap detik melakukan dosa ini, dengan menyeret Nama Beliau ke lumpur kekotoran?

Bukankah melalui beberapa NabiNya, beliau telah memberikan contoh dan tuntunan? Kenapa yang kita contoh hal-hal yang sepele, yang mungkin mempunyai arti bagi kesehatan, kenyamanan pribadi, kebersihan dsb. Yang mungkin bisa menimbulkan reaksi „Wah“ pada orang lain. „Wah alim.“, „Wah, taat.“, „Wah sudah haji.“, „Wah sudah ke Vatikan ketemu Paus.“, „Wah pinter bisa hafal Al Qur’an atau Injil.“ Dan Wah-Wahan yang lain.

Tetapi hal-hal yang juga penting dan berarti bagi kebersamaan kita dalam hidup ini tidak kita perhatikan, kadang kita lupakan? Apakah itu? Mungkin kita bisa memikirkan bersama, menemukannya dan lebih mengutamakannya?

Seperti ditulis oleh Akhmad Murtajib di sini: bacalah dulu sesuatu, sebelum melaksanakannya. Saya menambahi dengan hal-hal di atas, yang pasti tidak bertentangan dengan ajaran agama anda, kalau anda mengerti maksud dan tujuan Tuhan/Nabi/Agama anda.

25 Balasan ke Wong apik, wong elek. Neraka untukmu, surga untukku?

  1. helgeduelbek mengatakan:

    Kadang asal sudah “ber-label/bersimbol” lalu merasa paling benar, paling … dst. Jadi ada kesan servis bibir saja. Bolehkah kita muak terhadap pihak seperti ini (meraka ini kebanyakan adalah saudara seagama)? Kalau tidak bagaimana kita mesti bersikap?

  2. antobilang mengatakan:

    Betul pak guru, kadang karna merasa sudah bersimbol baik terus merasa pongah, merasa sudah dijamin masuk surga (emang siapa elu?), Rosul aja yang udah jelas jaminan surga masih taat beribadah kok,,,,nah masalahnya golongan2 orang yang “itu” tadi merasa paling benar, yang lain salah.
    satu contoh menarik, masalah mengenakan celana diatas batas mata kaki,
    harusnya hadits seperti itu tidak ditelan mentah2 brgitu saja, harus dilihat sebab munculnya hadits tersebut…
    sependek yang saya tahu, jaman dahulu kala banyak orang2 kaya yang pakaiannya menjuntai ke tanah dan semakin kaya orang, semakin panjang pakaiannya menjuntai ke tanah…mereka begitu sombong dan bangga dengan status kekeyaan mereka. itu yang kemudian menjadi sebab Rosul melarang memakai pakaian melebihi batas mata kaki karena sombong.
    Jadi intinya bukan pada pakaiannya, tapi sikap.
    Yang dilarang itu sombong nya!
    percuma dunk, pakaiannya cingkrang, pakai pecis, pakai surban, tapi dalam hatinya merasa paling benar, merasa paling alim, sombong, dengan merendahkan orang lain yang tidak sepaham dengannya…
    semoga ada yang meluruskan seandainya saya salah.

  3. joesatch mengatakan:

    mas antobilang menurut saya bener, selama ini banyak yang menafsirkan hanya dari sekedar yang terlihat secara tekstual, lalu merasa sudah punya ilmu setinggi langit, lainnya idiot semua. jarang dari “mereka” yang mau mempelajari latar belakang dan konteks sebuah istilah.
    astaga…astaga…

  4. tukangkomentar mengatakan:

    Helgeduelbek, antobilang, joesatch,
    seandainya lebih banyak orang berpikir seperti anda-anda ini dan mereka lebih berani mengajukan pendapat mereka, saya kira perdamaian di Indonesia bukan suatu hal yang muluk lagi.

    “Kadang asal sudah “ber-label/bersimbol” lalu merasa paling benar, paling … dst. Jadi ada kesan servis bibir saja.”
    “harusnya hadits seperti itu tidak ditelan mentah2 begitu saja, harus dilihat sebab munculnya hadits tersebut…”
    “selama ini banyak yang menafsirkan hanya dari sekedar yang terlihat secara tekstual, lalu merasa sudah punya ilmu setinggi langit, lainnya idiot semua”

    Apalagi yang bisa saya tambahkan?

  5. deking mengatakan:

    maaf pak, telat gabung hehehe…
    Saya setuju dengan apa yang diakatakan Antobilang dan Joe tentang “apa to sebab munculnya suatu hadits?”
    Sebenarnya saya sudah beberapa kali (lebih dari 1x) menanyakan hal itu pada “beliau2” itu tapi tidak pernah dijawab.
    Menurut saya orang2 yang seperti itu kok malahan seperti tidak paham (mungkin hanya sebatas tahu arti) ayat pertama Al Qur’an yaitu Iqro’ (bacalah). Padahal saya yakin kalau mereka tahu riwayat Nabi yang buta huruf alias tidak bisa membaca, jadi sangat jelas kalau Nabi tidak disuruh membaca (secara denotatif) tapi nabi disuruh untuk “membaca” (secara konotatif). SANGAT ANEH KALAU ALLOH YANG JELAS2 SUDAH TAHU NABI BUTA HURUF TAPI TETAP MENYURUH NABI UNTUK MEMBACA (secara denotatif).? Lha wong sudah jelas BUTA HURUF kok disuruh MEMBACA??
    Saya rasa hal itu bisa dianalogikan ke ayat2 yang lain dan juga hadits….yaitu jangan hanya brkutat dengan yang tersurat saja tapi justru tersirat-lah yang harus dipahami dan dilaksanakan.

  6. tukangkomentar mengatakan:

    Deking,
    ya gitu lho menurut pengertian saya sebagai seorang yang awam dalam Islam.
    Contoh yang paling populer ya mengenai poligini. Menurut pengertian saian saya:
    1. Diijinkan dalam situasi tertentu.
    2 Dengan tujuan tertentu.
    3. Dengan syarat-syarat tertentu.
    Pernah saya diskusi di blog, kok ada yang bilang: pokoknya diijinkan, tertulis di Al Qur’an, nggak usah dipikirkan lagi. Yang bilang gitu itu yang cuma mbaca saja tanpa ngerti maksud/isinya, kan?

    Oh, ya, demikian juga dengan ajaran dalam Kristen. kalau nurut pengertian saya, maksud Injil nyebut, bahwa Jesus itu anak Tuhan sebetulnya harus dimengerti secara umum, ialah bahwa kita semua ini ciptaan (baca: anak-anak Tuhan). Jadi bukan “anak” dalam arti seperti yang kita mengerti sebagai manusia. Sedangkan roh kudus itu kalau untuk saya ya sebetulnya “getaran” kekuasaan Tuhan (jadi: inti sari dari apa yang kita namakan/sebut Tuhan). Kita kan cenderung lebih bisa menerima sesuatu yang ada bentuk atau definisinya dan kalau bisa definisi ini harus mengandung suatu statemen yang agak mistis (bukan mistik, lho!). Kan makanya roh kudus itu disimbolkan sebagai seekor burung merpati. Seandainya disimbolkan sebagai suatu yang kurang nyata (seperti getaran atau aura atau semacamnya), mungkin lebih sulit dimengerti, ya?
    Dan kalau dalam Kejawen itu semua yang dihormati (yang disembah cuma satu: Ingkang Kuasa= Tuhan= Allah) diberi tempat tinggal sebagai simbolik ke”adaan”nya.
    Ini hanya pemikiran seorang awam, lho!

  7. Arif Kurniawan mengatakan:

    Yang seru, setan penghuni WC! Hehehe.. Masih ada nggak yaa setan penguni WC. Dulu waktu saya kecil sih masih ada. Nggak tahu kalau sekaang… hihihi

  8. tukangkomentar mengatakan:

    Arif Kurniawan,
    Ya masih ada dong setan penghuni WC! Buanyak lagi. Kalau nurut mbah Abdullah kan ya kita-kita ini setan-setan yang menghuni WC, lha kalau mbah Abdullah sih beraknya di ruang makan mungkin.🙂

  9. mrtajib mengatakan:

    *merenung….menjadi manusia yang baik ternayata sulit…karena baik itu sendiri juga tergantung…..*

  10. tukangkomentar mengatakan:

    mrtajib,
    nggak usah merenung banyak-banyak, kalau saya baca curahan hati Mas Tajib, saya pasti anda adalah seorang baik (weleh, muji mau minta apa nih?).🙂

  11. juliach mengatakan:

    Di Eropa, katakan di Perancis (di mana saya tinggal): banyak orang yg tdk beragama. Dulu saya pikir mereka itu beragama Katolik, ternyata setiap hari Minggu Gereja di sana kosong oblong.
    Yg mengherankan lagi, mereka (pemerintah/orang sipil) itu lebih manusiawi. Banyak aktivitas sosial seperti: Secour Populair, Croix Rouge(palang Merah), Medicin Sans Frontier, dll. Mereka menolong tanpa melihat ras, agama, dll. Saya pernah mendapatkan pertolongan dr mereka.

    Apakah mereka ini akan masuk neraka WC bersama saiton?

    Bagaimana untuk tragedi Ambon/Poso? Mereka beragama, tapi sayang perbedaan agama itu untuk saling membunuh?

    Bagaimana orang-orang elit Indonesia? Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?

  12. tukangkomentar mengatakan:

    Di Jerman dan kebanyakan negara Eropa memang gitu. Mungkin karena sistem pendidikan mereka yang humanistis, ya? tetapi tentunya semua ada plus dan minusnya, kan?
    Ada juga yang rasistis, yang mencemoohkan agama lain dsb., jadi pada prinsipnya ya sama saja dengan di Indonesia, kan?
    Yang sedihnya ialah bahwa manusia sudah tidak bisa membedakan lagi ketulusan seseorang karena mata hatinya sudah diselubungi kecurigaan!
    Kalau saya pribadi sih lebih baik masuk neraka WC bersama syaiton daripada kumpul dengan orang-orang yang sok suci (apapun agamanya).
    Kenapa? Karena saya sudah tahu siapa syaiton itu dan saya tahu pasti, bahwa iman saya cukup kuat untuk melawan godaannya (walah, sombong nih, ya).🙂

  13. m_kharis mengatakan:

    menurut pendapat saya, manusia yang baik adalah manusia yang mau berubah dan merasa dirinya paling kotor (berdosa). he………… dosa makanan apaan sich………..

  14. sora9n mengatakan:

    @ juliach

    Salam kenal,

    Soal ini, saya pernah baca di sebuah forum (internasional), di mana terdapat seorang atheis asal Prancis. Di forum itu, dia berkata begini:

    “Orang atheis itu tidak berbuat jahat karena standar moral dan etika, dia tahu karena itu merugikan orang lain. Sementara itu, para religius-fundamentalis itu berbuat baik karena diperintah oleh sebuah buku berusia 2000 tahun.”

    Mungkin itu juga sebabnya banyak atheis yang justru lebih humanis daripada mereka yang beragama…. mungkin lho😛 .

    Tamparan nih buat yang mengaku beragama, tapi malah saling bunuh demi agama mereka sendiri…😦

  15. tukangkomentar mengatakan:

    m_kharis,
    makasih, anda telah menambahkan satu definisi lagi dalam kriteria “manusia yang baik”. Setuju 100%. Karena dengan begitu manusia itu mempunyai kesempatan untuk berubah!

    sora9n,
    pertanyaan selanjutnya (untuk saya) ialah: adakah seseorang yang benar-benar ateis? Yang tidak percaya 1000% akan eksistensi Tuhan?
    Saya telah bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, bahkan yang asalnya dari negara-negara komunis/sosialis (Rusia dsb.), di mana (dulu) ateisme merupakan suatu hal yang dipentingkan. Tetapi saya belum pernah bertemu dengan seorang yang betul-betul ateis. Mereka biasanya tanpa agama, tetapi masih mempercayai “sesuatu”.
    Dan: banyak di antara mereka yang “bukan orang baik”. Jadi dalam setiap kotak ada kelerengnya yang bagus dan ada yang nggak mulus alias retak atau apapun.
    Dan orang yang menikmati pendidikan humanistis pun (di Eropa) banyak yang “nggak beres”.
    Kalau menrut saya itu bukan tamparan untuk agama (yang maunya hanya memberi petunjuk saja), tetapi untuk umat manusia yang katanya paling cerdas dan paling berakal!

  16. sora9n mengatakan:

    @ tukangkomentar

    pertanyaan selanjutnya (untuk saya) ialah: adakah seseorang yang benar-benar ateis? Yang tidak percaya 1000% akan eksistensi Tuhan?

    Ada contoh yang bagus soal ini. Jeffrey Lang, seorang mantan ateis yang kemudian memeluk Islam, menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai kecenderungan spiritual untuk mengakui “Tuhan”.

    Jadi, di saat beliau terjebak di tengah badai salju ganas, beliau (sebagai atheis) menantang Tuhan: “kalau kau memang ada, maka selamatkanlah aku dari badai ini!!”

    Ternyata badai berhenti tak lama kemudian. Apa kata beliau (waktu itu)?

    “Itu cuma kebetulan saja, memang badainya sudah mau berhenti.” Dan beliau pun melanjutkan berjalan dan lupa akan rasa putus asa yang sebelumnya.🙂

    Ada juga kisah rekan atheis beliau yang menjelang operasi paru-paru mengatakan akan beriman pada Tuhan jika operasi tersebut berhasil, tetapi kemudian (setelah berhasil) rekan tersebut seolah melupakan janji tersebut, dan tetap menjadi ateis.

    Tampaknya memang kebanyakan orang punya insting dasar untuk percaya pada suatu “supreme being”, alias sesuatu yang tingkatannya di atas kita. Ada/tidaknya seorang yang “1000% ateis”… saya tidak tahu. Bahkan atheis yang saya sebut di atas mengatakan bahwa “jika Tuhan ada, maka Dia harus memliki sifat maha pemurah, penyayang, dan memberikan keadilan — hal yang sekarang nyatanya tidak ada”.

    Mungkin dalam hatinya ia mengharapkan “Tuhan” yang seperti itu…🙄 kebutuhan spiritual?

    Kalau menrut saya itu bukan tamparan untuk agama (yang maunya hanya memberi petunjuk saja), tetapi untuk umat manusia yang katanya paling cerdas dan paling berakal!

    Betul sekali. Jika manusia tidak bisa memanfaatkan akalnya untuk menciptakan kehidupan yang damai, maka kita sedang berhadapan dengan kesulitan besar.

    Perang dengan akal: melibatkan bom atom? hulu ledak nuklir? Masih lebih baik nonton kucing berantem, yang jelas-jelas nggak merusak kehidupan seisi planet.

    (ups, sori ngelantur😛 )

  17. tukangkomentar mengatakan:

    sora9n ,
    kadang sepertinya ateisme itu seperti suatu mode. Jadi banyak yang berkoar-koar, bahwa mereka tidak percaya adanya Tuhan. tetapi kalau sedang dalam kesulitan atau perlu pertolongan kok ya, seperti yang anda tulis di atas, baliknya mintanya ke Beliau ini?
    Sedangkan ini:
    “jika Tuhan ada, maka Dia harus memliki sifat maha pemurah, penyayang, dan memberikan keadilan — hal yang sekarang nyatanya tidak ada”
    kan mungkin (atau pasti) dari kekurang-pengertian kita atas lelakonnya urip dan alam semesta.
    Dan dari mana kita tahu, bahwa Tuhan itu harus, sekali lagi: harus, maha baik, maha adil, maha penyayang? Bukankah itu keinginan kita yang mau disayangi? Seperti kita mau disayangi orang tua?
    Saya sendiri percaya akan adanya Tuhan, dan saya mengikuti suatu aliran Kejawen. tetapi yang paling penting untuk saya: saya berusaha menjadi orang yang tidak menyalahi yang lain dan saya tahu, bahwa saya harus banyak memperbaiki diri sendiri.

  18. sora9n mengatakan:

    @ tukangkomentar

    Dan dari mana kita tahu, bahwa Tuhan itu harus, sekali lagi: harus, maha baik, maha adil, maha penyayang? Bukankah itu keinginan kita yang mau disayangi? Seperti kita mau disayangi orang tua?

    Saya mungkin memberikan jawaban yang sifatnya pribadi saja ya (karena mungkin saja ada orang lain lagi yang punya ide yang berbeda). Kenapa Tuhan harus maha baik, maha adil, dan maha penyayang?

    Karena, kalau Tuhan itu tiran, perusak, dan tidak mencintai ciptaan-Nya, maka Dia adalah power-abusing superior, penguasa yang semena-mena dan menyalahgunakan kekuasaan. Apakah Tuhan yang semacam itu layak disembah?

    Mengutip Jeffrey Lang (yang saya sebut sebelumnya), ini juga beliau katakan sewaktu masih atheis:

    “Maka, seandainyapun saya salah karena menentang Tuhan [yang tiran], maka saya tetap benar. Karena saya menolak untuk tunduk pada kekuasaan yang menindas saya, dan membuat saya menderita tanpa alasan yang jelas. Mungkin akhirnya saya tetap menderita, tetapi paling tidak saya bisa lebih memaknainya.”

    Jika Tuhan adalah esensi yang tidak baik, tidak adil, dan tidak pemurah (dan tambah lagi tidak bertanggung jawab pada ciptaan-Nya), maka Dia tidak layak dicintai, apalagi disembah. Tidakkah Anda (dan saya juga) menyembah Tuhan, karena percaya bahwa Dia menghendaki kebaikan untuk kita semua?

    Adapun sejauh yang saya tahu, semua agama (termasuk agama saya) selalu menganjurkan untuk berbuat baik, adil, dan dan kasih sayang pada sesama. Apakah Tuhan yang tiran, tidak penyayang, dan tidak adil akan memerintahkan umat-Nya untuk berbuat demikian? Adakah Tuhan yang mengharapkan umat-Nya makin jauh dari esensi yang terkandung dalam diri-Nya?

    Saya kira tidak. Adapun menurut kepercayaan saya, setiap manusia sebetulnya memiliki secercah sifat ilahi dalam diri mereka (e.g. pemurah, penyayang, bijaksana, adil, dll). Oleh karena itu, mereka yang mengasah sifat ilahi ini akan bisa mendekati esensi Tuhan (sifat2-Nya yg baik); adapun yang mengabaikannya akan cenderung menjauh dari esensi-Nya yang mengandung kebaikan.

    Mungkin benar bahwa ini seperti yang Anda katakan, “Dan dari mana kita tahu, bahwa Tuhan itu harus, sekali lagi: harus, maha baik, maha adil, maha penyayang? Bukankah itu keinginan kita yang mau disayangi? Seperti kita mau disayangi orang tua?” Kita memang berharap untuk disayangi oleh orangtua. Tetapi, jika orangtua kita tukang tindas (e.g. ayah kita pemabuk dan suka menyakiti ibu), maka masihkah kita dituntut untuk menyayangi beliau?

    Umm, saya rasa ini kembali ke pribadi masing2 sih. Meskipun begitu, jika orangtua kita suka menyiksa kita, tidak menghidupi dengan layak, dan memerintah kita dengan semena-mena, saya rasa kita jadi “tidak wajib” untuk mencintai mereka lagi.

    Eh, pendapat pribadi sih. Mohon diluruskan kalau ada yang salah.🙂

  19. senyumsehat mengatakan:

    Masalahnya yang beragama dan bener2 membaca juga berapa persen pak? Khan kebanyakan juga turunan, kalau di Indonesia semua membaca, minimal penguasanya aja dulu nyontohin dan rakyatnya semua ngikutin, pasti krisis moneter ga bakal berkepanjangan, anak2 ga bakalan terlantar di jalanan, orang miskin ga bakal mati karena ga bisa berobat…hiks…meski mati itu takdir tapi usaha untuk berpindah dari satu takdir ke takdir yg lain itu kadang minimal….

  20. tukangkomentar mengatakan:

    sora9n,
    maksud saya sebetulnya.
    kan mungkin saja Tuhan atau Allah itu mempunyai kedua sifat itu? Jadi baik Maha Pengasih, Maha Pengampun dsb. dan juga Maha Pemarah, Maha Penghukum? Sebagai suatu bentuk keseimbangan? Jadi maksud saya bukan hanya sifat-sifat yang cuma “baik” atau cuma “buruk” saja.
    Saya percaya kepada Tuhan justru karena saya merasakan adanya kedua sifat ini di dalamNya. Ini yang memperkuat kepercyaan saya akan eksistensinya.
    Baik atau buruk itu kan merupakan persepsi yang kita pelajari menurut tuntunan-tuntunan agamawi dan juga tuntunan-tuntunan yang kita pelajari dari alam lingkungan hidup kita.

    senyumsehat,
    yah, bukankah membaca bukan berarti mengerti dan meresapinya. Banyak yang membaca dan salah interpretasi, ya jadinya fanatis dan malah salah ngerti, kan? Saya punya banyak teman di desa yang nggak pernah mbaca, tetapi mereka orang baik (betulan).

  21. sora9n mengatakan:

    @ tukangkomentar

    maksud saya sebetulnya.
    kan mungkin saja Tuhan atau Allah itu mempunyai kedua sifat itu? Jadi baik Maha Pengasih, Maha Pengampun dsb. dan juga Maha Pemarah, Maha Penghukum? Sebagai suatu bentuk keseimbangan? Jadi maksud saya bukan hanya sifat-sifat yang cuma “baik” atau cuma “buruk” saja.

    Lho, memang begitu. Tuhan itu selalu memiliki sifat paradoks (e.g. Maha Pemurah x Maha Pengambil; Maha Penyayang x Maha Membenci), dan lain sebagainya, Tetapi, semua itu terjadi secara seimbang.

    Tuhan tidak terus-menerus marah kepada kita (e.g. kalau kita berbuat baik, maka kita akan disayang), tetapi Dia juga melaknat umat-Nya sendiri (e.g. yang berbuat jahat dan menolak kebenaran). Meskipun begitu, Tuhan tidak mungkin terus menindas manusia tanpa alasan yang jelas, atau menghukum kita tanpa adanya kesalahan yang kita lakukan.

    Jadi, memang Tuhan itu punya sifat-sifat “Maha” yang cenderung negatif (e.g. marah, menghukum, membenci, mengambil hak, dll). Tetapi, sifat-sifat ‘keras’ ini tidak diterapkan tanpa tedeng-aling-aling (dan hanya merugikan manusia); melainkan seimbang dengan sifat-sifat “Maha” miliknya yang ‘lembut’ dan positif.

    Jika Tuhan itu “maha penyayang” saja, maka manusia tidak akan peduli pada-Nya. Lha, berbuat dosa pun takkan dihukum?😉 . Jika Tuhan itu hanya “maha baik” saja, orang-orang juga takkan khawatir melanggar aturan-Nya. Tetapi, (dalam agama saya), Tuhan selalu menunjukkan kedua sisi ini dalam memberikan petunjuk.

    Quote-nya, “engkau dekat, maka Aku dekat”.

    Umm, tapi bukankah di hampir semua agama Tuhan itu digambarkan sebagai “penghukum” sekaligus “penyayang”? Jadi, saya rasa konsep keseimbangan ini justru menggambarkan sifat Tuhan yang “Maha”; memiliki dan menguasai segala sesuatu, dengan keseimbangan yang teratur. Jika Tuhan hanya “penghukum”, maka Dia akan kehilangan sifat “penyayang”, demikian pula sebaliknya — jika Tuhan hanya “penyayang”, maka Dia sudah pasti tidak bisa “menghukum”.

  22. tukangkomentar mengatakan:

    sora9n,
    makanya kita harus sadar, bahwa Tuhan tidak hanya bisa mengampuni dan menyayang, tetapi juga menghukum dengan keras. Makanya kita harus sadar dan selalu bertanya, kan?
    Salam!

  23. efa mengatakan:

    orang yang beragama tidaklah selamanya benar. karena mereka beragama karena orangtuanya, bukan atas kesadaran diri. hanya segelintir orang yang menanamkan dan mengamalkan agama dalam kehidupannya. sebagian besarnya lagi menjadikan agama hanya sebagai ilmu pengetahuan yang tanpa aplikasi, serta mencantumkannya pada KTP. yaaahhh namanya juga agama KTP, agama KTP kan ga ada kitabnya yang ada cuman selembar kartu.

  24. tukangkomentar mengatakan:

    efa,
    orang yang tidak beragama atau yang beragama lain juga belum tentu salah, kan?
    Ini mungkin yang harus dipelajari oleh beberapa (juta atau miliar?) manusia?????🙂

  25. ilmulengkap mengatakan:

    waduuhhhhhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: