Emergency aid doctor

Paman saya yang sudah sepuh telah meninggal akhir tahun lalu, karena menderita hypertensive crisis (krisis tekanan darah) yang mengakibatkan edema paru-paru. Dalam keadaan kritis dengan sesak napas yang hebat itu, kakak keponakan saya meminta tolong seorang tetangganya yang mempunyai mobil dan beliau diangkut ke rumah-sakit. Sayang beberapa meter sebelum sampai, beliau sudah dipanggil.

Kenapa saya ceritakan ini?

Karena saya berpikir, apakah jiwa beliau bisa diselamatkan dan saya bisa menengok sekali lagi sebelum di usianya yang sudah tinggi itu beliau akhirnya akan dipanggil Tuhan, seandainya di Indonesia sistem emergency aid doctor sudah/bisa diterapkan.

Apa sistem emergency aid doctor ini?

Tidak lain sistem pertolongan pertama dengan dokter-dokter yang memperoleh pendidikan khusus dalam hal ini. Bahkan sejak kurang lebih dua tahun yang lalu, pendidikan ini diakui sebagai sebuah subspesialisasi.

Bagaimana bekerjanya sistem ini?

Di seluruh Jerman terdapat pusat-pusat yang mengorganisasi layanan darurat ini di setiap kota atau daerah (seperti kecamatan). Biasanya untuk di kota kecil cukup seorang EAD dan di samping itu ada juga dokter praktik (dokter umum atau ahli yang mempunyai praktek) yang harus melakukan dinas malam atau akhir minggu. Kalau seorang menderita sakit biasa (bronkitis, diare ringan dsb.) dan bisa ditangani oleh dokter praktik dinas, maka EAD tidak dihubungi dan pasien ditangani/diobati di luar. Seandainya dokter dinas menganggap pasien harus dirujuk, maka ia akan memanggil dinas palang merah yang kemudian akan mengangkut pasien ke rumah-sakit. Dalam hal-hal gawat darurat (seperti kecelakaan lalu-lintas, infark jantung, edema paru dsb.), maka dokter dinas akan menghubungi dinas palang merah dan dinas palang merah menjemput EAD. Biasanya tersedia dua mobil untuk satu kasus: 1 mobil untuk EAD dan 1 ambulans (biasanya dengan peralatan cukup lengkap: O2, EKG dengan alat defibrilasi, kadang alat ultrasound portable dsb. dan obat-obat standar). Sistem di Jerman adalah sistem periksa, penanganan pertama dan kemudian perujukan ke RS. Menurut informasi yang saya peroleh, di England contohnya, sistemnya ialah sistem take and carry. Jadi pasien dijemput dan langsung dibawa ke RS. Pelaksananya setahu saya para paramedics, jadi bukan dokter.

Prosedurnya secara agak mendetail:

1. Pasien atau kebanyakan keluarga menghubungi dokter dinas atau terkadang langsung palang merah melalui nomer-nomer tilpon tertentu.

2. Dokter dinas memutuskan, apakah pasien bisa ditangani di luar atau harus masuk rumah sakit. Dlam hal ini apakah EAD perlu dipanggil. Kalau perlu

3. EAD dihubungi dan dijemput dengan mobil khusus EAD.

4. EAD memeriksa, melakukan pengobatan pertama dan memutuskan perujukan ke rumah sakit mana.

5. Transport ke RS tujuan dengan EAD.

Penulis sendiri telah berkerja sejak bertahun-tahun sebagai EAD (di samping tugas utama di rumah-sakit). Selama itu banyak hal yang dialami, dari dipanggil karena ada seorang yang mengamuk (psikotis) sampai pada kecelakaan baik lalu-lintas maupun di rumah.

Sebuah kecelakaan masih saya ingat sampai sekarang: di sebuah pabrik, sebuah alat berat jatuh menjatuhi kaki seorang pekerja yang berusia kira-kira 35 tahun. Waktu kami datang, pekerja itu sudah dalam keadaan preshock dan kaki kirinya hampir putus, tinggal selembar kulit yang menghubungkannya dengan tungkai kaki. Setelah meninjau situasi, saya putuskan untuk memotong kulit tersebut (tentu setelah sebelumnya saya memberikan anestesi). Kemudian pasien saya rujukkan dengan helikopter ke rumah-sakit spesial. Sayang kakinya tidak bisa diselamatkan, karena jaringan dagingnya telah hancur.

Kembali mengenai paman saya seperti saya singgung di atas. Mungkin jiwanya bisa diselamatkan, tetapi mungkin itu juga sudah takdirnya, sudah waktunya. Biarpun layanan kesehatan sudah sebagus di Jerman, tetapi kalau sudah waktunya, kita tidak akan bisa merubah atau memundurkan waktu itu. Jadi saya beliau saya relakan.

10 Balasan ke Emergency aid doctor

  1. cakmoki mengatakan:

    Saya pernah mendiskusikan mirip ini, seperti metode USA (sama dengan Inggris), apa jawaban yang saya peroleh dari dinas kesehatan kota kami?
    Kelajuan (bahasa daerah yang artinya muluk-muluk atau menghayal). Dapat dibayangkan, di sebuah pertemuan resmi instansi pemerintah, jawabannya seperti itu.
    Ketika saya lanjutkan dengan pertanyaan: ” apa artinya pelatihan dan spanduk pelayanan bermutu, sedangkan petugas khusus sudah dilatih selama 6 bulan ?”
    Jawabannya: ” itu kan memang program (baca:proyek)”.
    Gak nyambung kan ?
    Bahasa pedasnya, sebagian jajaran kesehatan tidak serius.
    Makanya, tulisan saya soal mutu layanan kesehatan tidak sehalus ini. hehehe *nggak menghasut lho*

    OOT
    Nuwunsewu, bagaimana kalu tag kategori ditambah Pak, misalnya: kesehatan, health, medical, emergency atau apa yang berkaitan dengan isi tulisan. Maksudnya supaya muncul ketika orang mencari informasi. Sayang lho, tulisan bagus gini dibiarkan.
    Ngapunten🙂

  2. tukangkomentar mengatakan:

    Cakmoki,
    memang kalau di Indonesia dokter mau dilibatkan langsung ke pelayanan emergency aid mungkin sulit, karena jumlahnya kurang memadai, ya? Sedangkan sistem ini harus berfungsi 24 jam.
    Mungkin memang sebaiknya, kalau dicoba sistem Inggris atau USA, jadi sistem take and carry dengan pelaksana dari paramedics, yang tentu saja harus mendapat pendidikan khusus (yang harus selalu di”refreshing” seperti di Jerman). Selain itu mungkin juga harus diawasi ketat dengan ancaman konsekuensi yang kerasa, agar tidak disalah gunakan.
    Atau sistem campuran: siang dengan dokter dan malam hanya paramedics.
    Masalahnya yang terutama: pembiayaan. Saya rasa sistem ini baru akan berjalan mulus, kalau sisten asuransi sudah jalan, kan?

  3. cakmoki mengatakan:

    Ya benar, itu diantara berbagai masalah yang tak teratasi.
    Kalo di kota tenaga sepertinya tidak masalah, sebagai contoh di Samarinda, dokternya ada sekitar 250 orang plus drg totalnya hampir 400 orang.
    Asuransi di sini (indo) ngga jalan mulus pak, misalkan peserta dari pegawai negeri asma, boro-boro dapet inhaler, nggak bakalan.
    Contoh yang sekarang berjalan untuk pasien askes, dokternya dibatasi maksimal 3 jenis obat dan maksimal 3 hari. Lebih dari itu bayar. Kadang bayar tambahannya lebih besar dari biaya berobat tanpa asuransi.
    Saya sih tidak pernah mau jadi dokternya askes, nggak tega pasiennya dikasih obat seadanya.
    Menurut saya persoalannya di mentalitas dan sistem.

  4. pramur mengatakan:

    Numpang nimbrung nih Mas…
    Jadi ingat komiknya Urasawa Naoki, 20th century boys. Diceritakan seorang dokter bedah yang menangani dengan sepenuh hati, dengan kejeniusan luar biasa. Semua pasiennya yang hampir mati pasti berhasil dibedah dan kembali sehat.

    Bicara soal biaya bagaimana boss? Entar bukannya diminta biaya lebih tinggi?

  5. Dani Iswara mengatakan:

    mungkin krn (pembiayaan, mentalitas, sistem) itu jg sebabnya pelayanan kesehatan swasta di Indo lbh dicari konsumen menengah ke atas, moga2 dgn konsep desa siaga bbrp harapan dpt terpenuhi..😀

  6. tukangkomentar mengatakan:

    cakmoki,
    “Menurut saya persoalannya di mentalitas dan sistem.”
    Yah, dan mentalitas itu minyak pelumasnya sebuah sistem, kan. Kalau minyaknya tercampur debu dan kerikil (baca korupsi dsb.), ya mesinnya jadi sering rusak. Sulit, sulit.

    pramur,
    “Bicara soal biaya bagaimana boss? Entar bukannya diminta biaya lebih tinggi?”
    Itulah absurdnya: sesuatu yang menjadi hak dasar kita (baca: kesehatan) kok harus dibeli dengan harga tinggi.

    Dani Iswara,
    memang sebaiknya untuk di Indonesia mulai dari yang bisa dilaksanakan dulu, ya seperti kosep desa siaga itu. Dan kita sebagai dokter harus membantu tanpa pamrih (weleh, ngomong gede saya ini, padahal hidupnya nggak di Indonesia. Tapi kalau perlu bantuan, biar sekecil apapun hubungi saja saya.)
    Anda di mana?

  7. anis mengatakan:

    Indonesia khan penuh dengan paradoks. Di Jogja, ada salah satu LSM yg menyediakan layanan ambulans gratis. Promosi ke masyarakat sangat aktif, spanduk ada di beberapa tempat. Akhirnya kewalahan melayani permintaan masyarakat, karena ambulansnya cuma satu. Tetapi, puskesmas istri saya baru-baru ini mendapatkan tambahan ambulans lagi, fasilitasnya lengkap, tetapi tanpa supir. Nomer telpon puskesmasnya juga tidak dikenal masyarakat. Akhirnya, lebih banyak nganggurnya. Kepala puskesmas istri saya dulu sering dipanggil masyarakat. Keluarga pasien datang ke puskesmas, minta dokter visit dengan alasan keluarganya sakit tidak bisa datang ke puskesmas. Sesampai di rumah yang bersangkutan, si pasien sedang ngrokok dan bersantai-santai di beranda rumah🙂

  8. tukangkomentar mengatakan:

    anis,
    mungkin pasiennya bisa ikut ndorong ambulansnya sampai ke Puskesmas?🙂
    Tapi ya gitulah di Indonesia mungkin ya? Di satu pihak aktionisme tanpa dipikir panjang, di sisi lain tanpa mikir bikin aktion.🙂

  9. artikel komputer mengatakan:

    turut berduka cita

  10. harga ac mengatakan:

    mantapppp nihh gann

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: