Ginjal anakku untuk siapa?

Hari ini, saya duduk di hadapan seorang ayah tua (72 tahun) dan anaknya (kira-kira 50 tahun). Mata mereka memancarkan kesedihan yang dalam. Kenapa?

Di ruang sebelah di bagian intensive care tergeletak putra/adik laki-laki mereka yang berusia 48 tahun dan telah mengalami pendarahan otak berat. Di antara bibirnya mencuat selang plastik ukuran 8,5 ch yang dihubungkan dengan mesin pernafasan, karena penafasannya sendiri sudah tidak berfungsi lagi. Di kedua lengannya menancap jarum-jarum infus, cairan-cairan mengalir menyusuri pembuluh-pembuluh darah tanpa menemui reaksi dari otak yang sudah mati. Di monitor pengawasan terlihat detak-detak jantung yang kadang cepat dan kadang lambat, konsentrasi oxigen di darahnya masih tetap di atas 90% karena pernafasan bantuan dengan mesin itu dan tekanan darahnya masih stabil.

Apa yang harus saya katakan? Mereka sudah tahu, bahwa tidak ada harapan hidup lagi bagi si sakit, bahwa otaknya sudah mati.

Saya paksakan diri untuk memulai pembicaraan:” Bapak-bapak, maaf, tema pembicaraan saya ini mungkin tidak menyenangkan, tetapi saya kira anda berdua sudah tahu diagnosanya dan bahwa tidak ada harapan lagi untuk putera/adik anda.”

“Ya, dokter, kami sudah tahu semuanya dan kami telah pasrah kepada Tuhan.”

“Kalau begitu, saya akan berterus terang saja dan saya mohon maaf sebelumnya, kalau pertanyaan saya ini tidak berkenan di hati anda.” Dan setelah menelan ludah saya lanjutkan pembicaraan itu:” Keadaan putra/adik anda sejak beberapa jam yang lalu telah memburuk dalam arti, bahwa otaknya tidak bekerja sama sekali. Istilahnya: brain death.”

“Ya, inipun sudah kami nantikan, dok,” kata si kakak sambil menahan air matanya.

“Karena anda berdua telah mengetahui situasinya secara jelas, saya memebraikan diri untuk bertanya: bagaimana pendapat anda tentang pendonoran organ? Maaf atas pertanyaan saya ini, kalau anda menginginkan, pembicaraan mengenai hal ini bisa kita sudahi di sini saja.”

Setelah sunyi beberapa detik, sang kakak berkata:” Ah, dok, kok kami belum memikirkan hal ini, ya? Nggak apa-apa, dok, kami tidak marah atau apa. Bagaimana pendapatmu, Pak?”

Pembicaraan selanjutnya tidak saya paparkan di sini. Tetapi akhirnya kami sepakat, bahwa mereka akan membicarakan lagi masalah ini dengan saudara-saudara yang lain. Ibu si sakit baru meninggal belum lama ini.

Setelah melewati waktu beberapa jam, di jenjang mana keadaan si sakit pernah menjadi instabil, sehingga pengobatan harus lebih diintensivkan lagi, akhirnya saya minta mereka – melalui telepon – untuk datang dan membicarakan hal itu lagi. karena keadaannya tidak sestabil sebelumnya dan kami harus mengambil keputusan secepatnya. Ternyata mereka telah sepakat, biarpun seorang adik dari si sakit pada mulanya masih ragu-ragu.

Setelah ayah si sakit membubuhkan tanda-tangannya di atas kertas persetujuan pendonoran itu, saya langsung menghubungi koordinator donor organ daerah itu melalui telefon dan memaparkan situasinya. Kami menyepakati: 1. ia akan mengirim seorang ahli syaraf yang akan meastikan diagnosa brain death tersebut dan bersama dia akan datang pula team pengambil organ. 2. Kami yang di rumah sakit menunggu sambil berusaha menstabilkan peredaran darah dan pernafasannya sambil menunggu, sementara itu saya sudah menghubungi ahli anestesi yang akan mengawasi situasi selama pengambilan organ berlangsung. Selain itu kami menentukan golongan darah dan memeriksa parameter-parameter yang penting. Nantinya team pengambil organ akan mengambil darah lagi, agar ada referensi dan juga untuk mencocokkan golongan-golongan darah si donor dengan data-data golongan darah calon-calon penerima yang disimpan di pusat data donor organ.

Kira-kira pukul 9:00 malam, team tersebut datang, syukurlah, sampai pada waktu itu keadaan si donor masih stabil. Pengambilan organ berlangsung tanpa komplikasi dan yang diambil: ginjal dan jantung.

Malam ini, sebelum tidur, saya akan berdoa untuk si donor, agar Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahannya dan menilik hidupnya dari kelakuan baiknya yang terakhir ini. Dan agar para penerima dapat hidup dengan sehat tanpa komplikasi. Dan agar kesediaan team-team yang bekerja untuk kemanusiaan ini dihargai oleh Tuhan dan dimasukkan ke dalam bagian plus di daftarNya. Dan agar keluarga si sakit diberi kekuatan oleh Tuhan (yang mananpun) untuk mengahadapi cobaan ini dengan tabah dan agar kerelaan mereka memnyetujui pendonoran organ ini di hargai oleh Tuhan dan sesamanya.

Tambahan: Di Eropa sistem organisasi donor organ sudah teratur baik sekali baik dari segi hukumnya maupun dari segi kedokteran. Juga ada kemungkinan bagi setiap orang untuk mengantongi Kartu Pernyataan Donor Organ , di mana tercantum Nama, Alamat, Tanggal lahir, golongan darah dsb. dan Kartu ini di mata hukum berlaku sebagai persetujuan. Sayapun memiliki kartu tersebut. Apa saja yang bisa ditransplantasikan? Ginjal, jantung dan paru-paru, kelenjar pankreas, hati/liver, kornea mata dll.

Bagaimana pendapat anda tentang pendonoran organ? Bagaimana pendapat agama anda? Apakah seorang muslim diijinkan menerima organ seorang “kafir”? (Yang mungkin dalam hidupnya sering makan daging babi). Bagaimana pendapat ustad anda?

6 Balasan ke Ginjal anakku untuk siapa?

  1. Shinta mengatakan:

    Pertama saya tanya dulu: apa di Qur’an tercantum ga boleh terima organ dari orang yang pernah makan babi? Sepanjang pengetahuan saya (yang pendek ini), yang dilarang itu makan babi langsung, bukan terima donor organ pemakan babi atau xenotransplantasi.

    Mengenai babi, saya ada cerita pribadi. Beberapa tahun terakhir saya sadar bahwa saya tidak cocok makan daging. Pake gradasi pula, hewan air paling ringan, unggas setingkat lebih jelek, daging merah, apalagi babi bikin saya sakit. Bisa 3 hari ga tidur karena sakit seluruh badan luar biasa seperti ditusuk-tusuk. Daripada sakit, lebih baik saya rem mulut makan produk nabati.

    Idealnya tentu saja jika setiap orang bisa menjalankan karena mengerti/ memahami alasan di baliknya. Untuk contoh gampangnya masalah daging babi di atas. Tapi, berapa banyak orang yang peka? IMO larangan itu ada karena untuk gampangnya saja, dipakai kata, ‘Jangan dimakan.’

    Eh, saya ngelantur?

  2. senyumsehat mengatakan:

    Nabi saja mencontohkan memberi sedekah kepada orang kafir buta yang selalu mengata2i dirinya. Tubuh ini kembali ke tanah atau di donorkan tidak menjadi masalah. Yang kembali kepada sang Pencipta itu ruh. Lagian kita tidak pernah tahu rencana Allah, barangkali saja dengan demikian cara Allah memberikan hidayah, who knows?

    Tapi aku bukan ahli Al-Quran, setahuku tidak ada perihal donor darah atau donor ginjal… Allah itu melihat niat seseorang, jangankan menolong orang kafir, menolong anjing haus saja seorang pelacur bisa masuk surga… anjing haram, pelacur haram jadi apa yang dinilai ? Ketulusan yang utama…

  3. tukangkomentar mengatakan:

    Shinta,
    itu kan masalahnya. saya juga nggak bisa menemukan tentang itu di Al Qur’an yang saya miliki (dengan terjemahan bahasa Indonesia, karena saya nggak bisa tulisan/bahsa Arab). Memang yang nggak boleh hanya makan saja (Al Qur’an 5.3). Tapi kan sering ada interpretasi lanjutan dan ajaran-ajaran selanjutnya yang kadang (menurut perasaan saya) lebih dipentingkan. Contoh: poligini. Memang diperbolehkan dalam keadaan dan dengan syarat-syarat tertentu. Tapi lihatlah kenyataannya sekarang. Banyak kaum klerik islami yang bilang: “buat apa diperdebatkan, kan itu diperbolehkan.”.
    Jadi kalau ada yang tahu fatwa baru, tolong diberitahukan saya.

    senyumsehat,
    setahu saya dan menurut pengertian saya ya gitu. Tapi, seperti yang saya tulis untuk shinta, kan mungkin ada “fatwa” atau “peraturan” atau “interpretasi” (apa saja deh namanya) baru yang mungkin kita belum tahu, kan?

  4. aunsstuff mengatakan:

    Sejauh yang saya tahu, seorang muslim yang menerima donor darah dari non muslim adalah halal. Coba lihat2 di artikel tanya jawab ustadz-nya eramuslim.com. saya pikir konteksnya sama, setuju gk? btw, thanks udah komen di blog saya.

  5. roro mengatakan:

    saya sih cuma mau tanya dimana saya bisa mendaftarkan diri untuk mendonorkan organ tubuh dan apasaja yang harus saya persiapkan? thanks

  6. tukangkomentar mengatakan:

    Maaf, saya nggak tinggal di Indonesia, jadi juga kurang tahu. Mungkin anda bisa tanya kolega ini: http://cakmoki86.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: