Mencari kebenaran

Kalau pada jaman dulu orang mencari kebenaran dengan melanglang buana dan berguru kepada guru-guru dan ulama-ulama terpandai dan terpilih, jaman sekarang ini sering pencarian kebenaran merupakan suatu perilaku yang didasari kemodernan dan kecepatan, melalui membaca atau menyerap informasi-informasi dari media masa, baik yang berbentuk media cetak (koran, buku dll.), suara (radio), gambar dan suara (Televisi) dan tentunya media informatika modern (internet).

Merekalah yang sering menjadi panutan dan guru-guru kita di era modern ini. Tentu saja di samping guru-guru atau ahli-ahli yang masih berbentuk manusia (Ya, memang masih ada lho mereka ini! Biarpun kadang mutunya harus dipertanyakan).

Terutama dalam media internet terkumpul (atau tersebar, tergantung sudut pandangnya) data-data informasi yang hampir tak terhingga banyaknya dan dapat diambil dengan kecepatan yang tinggi sekali.

Tetapi si pengambil tetaplah manusia yang mempunyai daya tangkap, daya serap, daya saring, daya interpretasi dan daya pengertian yang terbatas dan berbeda-beda antara satu dan yang lainnya.

Sering kita lihat atau alami, informasi-informasi yang diterima (dari media apapun) merupakan sebuah pernyataan atau statement yang meng“generalisasi“kann sesuatu dan fatalnya, hal-hal tersebut diserap oleh si penerima sebagai suatu yang mutlak.

Tetapi sering juga terjadi, bahwa si penerima informasi menyadari, bahwa informasi yang diterimanya merupakan suatu hal yang seharusnya dipertimbangkan lagi kebenarannya atau validitasnya, tetani demi suatu hal yang dia anut atau dia percayai, informasi ini dipergunakan sebagai suatu dasar argomentasi atau sebagai suatu senjata untuk mendekonstruksikan argumen lawan diskusinya.

Contohnya sering kita baca dalam blog-blog ataupun dalam diskusi-diskusi langsung.

Ambillah argumentasi free sex untuk menguatkan pendapat, bahwa negara barat (Negara-negara Uni Eropa, USA dsb) sudah mengalami kerusakan moral dan bahwa pengaruh-pengaruh mereka harus dihindarkan dan ditolak.

Fatalnya, banyak pengguna argumen ini tidak tahu jelas tentang free sex dan pengetahuan yang mereka punyai di dapat dari media atau dari cerita-cerita orang lain (yang mungkin juga belum pernah melihat atau mengalami sendiri hal ini atau Cuma berkunjung beberapa waktu di Negara-negara tersebut dan sudah merasa tahu semuanya dan boleh menjatuhkan vonisnya). Yang juga fatal adalah tendens untuk menyama-ratakan dan mengatakan, dalam hal ini, barat = free sex.

Apalagi kalau mereka mendapat informasi yang gini (Awas! Bukan untuk anak kecil atau yang imannya tidak kuat!):

Free sex1

Free sex2

 Di dunia barat sendiri tentu saja ada juga fenomena seperti ini. Tentu!

Contoh: pemberitaan tentang Islam di media massa banyak (bukan kebanyakan) difokuskan atas hal-hal yang negatif, seperti suicid bombing, perang dan pembantaian antara aliran agama Islam di Irak, penculikan dan penyanderaan oleh kaum Islam fanatis di Irak, Afganistan dsb.

Dengan sendirinya para pemirsa/pembaca/penonton/penginternet kalau tidak hati-hati akan membentuk sebuah gambaran yang negatif tentang Islam. Dengan istilah “Islam” mereka akan menghubungkan: primitif, pembantaian, intoleransi, penyanderaan, pembunuhan dsb., dsb.

Padahal kita yang berpandangan luas dan tahu banyak hal ini kan tahu, bahwa Islam bukan (cuma) itu.

Tetapi siapakah yang peduli, kalau informasi yang diterima kebanyakan hal-hal yang begitu?

Apalagi kalau melihat foto seperti ini (Awas! Bukan untuk anak kecil atau yang punya sakit jantung!):

Kurban

Korban

Lalu, apa jalan keluarnya?

Kembali ke jaman dulu, mencari kebenaran dengan melanglang buana dan melarang semua bentuk media cetak/suara/suara dan gambar/internet ?

Apakah guru-guru atau para ahli yang akan kita datangi akan betul-betul bisa memberikan penjelasan tentang kebenaran hidup kepada kita ? Ataukah penjelasan-penjelasan mereka hanya merupakan kutipan-kutipan dari buku-buku yang mereka anggap mutlak ?

Bagaimana pendapat anda ?

6 Balasan ke Mencari kebenaran

  1. Haqiqie Suluh mengatakan:

    Wah enak ya kalo bisa nemuin makanan “kebenaran” di satu meja, di satu kampung, di satu pojok warung, atau di bawah jembatan. Sambil ngobrol “ngalor-ngidul” bisa menyantap menu “kebenaran”. Yah, ternyata saya cuma bermimpi.😦. Selamat Mencari semoga juga dapat Memahami….

    Salam Tanya di Hati

  2. Kang Adhi mengatakan:

    saya pikir harus dibedakan media massa yang mempunyai jangkauan luas, terutama karena struktur modal yang mereka miliki. Mereka ini yang mempunya kemampuan untuk membentuk opini publik. Sementara internet dengan informasi yang beragam mencoba menawarkan alternatifnya. Ditengah kesemrawutan informasi itu, saya percaya ada hatinurani yang terus memperjuangkan kebenaran. Seperti anda.

  3. tukangkomentar mengatakan:

    Haqiqie Suluh,
    memang makanan yang satu ini sulit setengah hidup di carinya dan kalau tukang masaknya terlalu “semangat” dan bumbu-bumbunya terlalu banyak bisa menyebabkan sakit perut sampai diare. Begitu juga kalau yang makannya terlalu rakus tanpa milih (dengan me”roso”kan), bisa lebih parah jadinya, kan?

    Kang Adhi,
    ya itu, nyaring inputnya secara bener itu yang harus kita pelajari, nggih?

    “Ditengah kesemrawutan informasi itu, saya percaya ada hatinurani yang terus memperjuangkan kebenaran. Seperti anda.”
    Seperti anda juga, kan? Wah, jadi puji-pujian nih, nanti kita dikira ……..🙂

  4. mrtajib mengatakan:

    Mencari kebenaran? Wah, saya kira kata kebenaran kita tempatkan dalam tanda kurung dulu sehingga menjadi (kebenaran). Kurung terus jangan sampai keluar. Sementara kita mesti mencari istilahlain, berupa pemahaman. Mengapa saling paham dan saling salah paham? Nah, bila bisa saling memahami, barulah kebenaran kita lepaskan tanda kurungnya.

    keyword: saling memahami satu sama lain (tetapi tidak sekedar memahami tetapi tidak paham lho)

  5. tukangkomentar mengatakan:

    mrtajib:
    tidak ada lagi yang bisa ditambahkan di komentar anda.
    Mari, jalan sama-sama.

  6. steven mengatakan:

    Saya tunjukkan deh kebenaran itu kepada kalian karena tidak sulit menemukannya. Ada pada orang yang bisa berkata: I am the way, the truth and the life. Siapapun yg tidak bisa berkata seperti ini diluar kebenaran. Dan hanya satu orangnya, sejarah mengakui sepanjang masa begitu juga surga. Itulah Juruselamat manusia Isa Almasih. Firman itu telah menjadi daging dan diam diantara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: