Ginjal muslim untuk anak Yahudi. Haram? Halal? Atau hanya kebesaran jiwa seorang ayah?

Menjelang hari raya Idul Fitri 2006. Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun bermain perang-perangan dengan teman-temannya. Sambil tertawa-tawa dan menenteng senapan mainan, ia berlari melintasi sebuah jalan yang dipagari rumah-rumah yang sebagian sudah runtuh dan sebagian lagi masih dihuni.Tiba-tiba terdengar dua tembakan, dan anak itu, Ahmed al-Chatib, tersungkur dan tergeletak di tengah jalan tanpa bergerak. Darah membasahi aspal di sekelilingnya.

Di rumah sakit para dokter menyatakan, bahwa otak Ahmed telah kehilangan fungsi, biarpun organ-organnya masih berfungsi. Separuh wajahnya yang masih muda dan penuh mengandung harapan telah tercabik oleh salah satu tembakan tersebut dan peluru yang kedua mengenai perut bagian bawahnya dan mengakibatkan pendarahan yang tak bisa dihentikan. Brain dead. Vonis yang mutlak.

Sang ayah, dengan wajah yang gelap karena kesedihan, bertanya kepada dokter yang mengurus Ahmed:” Jadi, tidak ada harapan lagi?”

Dokter itu dengan mata memancarkan rasa kasihan dan juga kesedihan yang mendalam menjawab: “Tidak, otaknya sudah mati. Cuma pertanyaan waktu saja, sampai organ-organnya yang lain berhenti berfungsi dan semuanya akan berakhir.”

Al-Chatib merenung beberapa detik dan mengangkat wajahnya memandand dokter itu. Sambil mengusap setetes air mata yang membasahi ujung matanya, dia bertanya lagi:” Apakah organ-organ anak saya bisa menyelamatkan jiwa orang lain?”

Pertanyaan yang tak terduga ini menyentuh hati dokter tersebut yang hanya bisa menjawab dengan terbata-bat:” Ya. “, dan setelah mengerskan hati dokter itu bertanya lagi: “Apakah anda mempunyai syarat mengenai penerima organ anak anda?”

“Hanya satu: jangan diberikan ke pada tentara Israel. Berapa waktu yang masih ada sampai saya memutuskannya betul-betul?”

Dalam waktu dua belas jam yang tersisa, Al-Chatib memeperoleh tentangan dan persetujuan. Imam dari kota tempat tinggalnya menghubungi Imam Agung Jerusalem, yang selanjutnya melanjutkan persoalan ini sampai ke Universitas Al Azhar di Kairo. Jawaban yang diterimanya: boleh, hal ini tidak melanggar hukum Qur’an. Sebagai langkah terakhir Al-Chatib meminta persetujuan Zakaria Subeidi, pemimpin Barisan martir militan Aksa di kota itu, yang mengatakan:” Perjuangan kita bukan melawan rakyat Yahudi, tetapi melawan penjajah!”, katanya. “Penyumbangan organ ini juga merupakan bagian dari perjuangan kita. Ini berarti kita akan mengurangi jumlah lawan kita, karena mereka yang mempunyai organ arab di tubuhnya tidak akan membunuh orang arab lagi.”

Yang menerima organ-organ Ahmed:Jantung: seorang gadis muslimah berusia 13 tahun. Paru-paru: seorang teenager dari Jerusalem. Hati (liver): dibagi dua dan masing-masing bagian ditransplantasikan ke tubuh dua orang Yahudi Ginjal: diberikan ke pada seorang anak Beduin berumur 5 tahun dan ke pada putri sebuah keluarga Yahudu ortodoks yang berusia 3 tahun.<><>Enam anak manusia yang akan berakhir hidupnya tanpa transplantasi dan sekarang memperoleh harapan lagi karena hadiah dari Ahmed dan keluarganya.

“Saya kehilangan Ahmed, tetapi saya kini memperoleh enam anak baru.” Enam anak baru yang masing-masing mengandung bagian dari Ahmed.

Dua dari penerima organ itu akhirnya meninggal.

Ibu dan ayah dari gadis Yahudi 3 tahun yang menerima ginjal Ahmed itu menyatakan, bahwa mereka sebetulnya lebih senang, jika ginjal itu ginjal Yahudi. Atas pernyataan itu mereka menerima makian dan kutukan dari masyarakat luas dan bahkan dari banyak orang Yahudi sendiri. Akhirnya mereka menyatakan terima-kasih mereka kepada keluarga Ahmed, tetapi tetap tidak mau berhubungan dengan mereka. Ismail Al-Chatib, ayah Ahmed, mengusap batu nisan puteranya dengan lembut. Ia tahu, bahwa Tuhan tahu.
(Dikutip dari majalah Spiegel yang terbit di Jerman).

Lalu, apa maksud saya mengutip berita itu? Tidak macam-macam. Hati saya tersentuh oleh kebesaran jiwa sang ayah, yang rela meng”hadiah”kan organ puteranya tanpa memandang agama atau ras. Dan saya akan berusaha belajar dari Al-Chatib dan mencontoh kebesaran hatinya.

20 Balasan ke Ginjal muslim untuk anak Yahudi. Haram? Halal? Atau hanya kebesaran jiwa seorang ayah?

  1. wadehel mengatakan:

    Hati saya juga tersentuh🙂

    Selamat Tahun Baru, dan selamat datang di blogosphere😀

  2. amargiamargo mengatakan:

    Matur nuwun dan mudah-mudahan tahun yang baru ini dan tahun-tahun selanjutnya akan dibanjiri oleh perdamaian, toleransi dan saling pengertian, dan juga dipenuhi oleh kesediaan kita untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolongan dalam bentuk apapun.
    Selamat bertahun baru juga untuk keluarga mas Wadehel.
    Monggo!

  3. Amd mengatakan:

    Waaa… akhirnya bikin blog juga yaa? (Ndak tahan juga rupanya untuk segera ‘keluar dari sarang’) hehe… Selamat berkarya! Saya Link ya…

  4. manusiasuper mengatakan:

    Posting pertama yang luar biasa…
    Salute!

  5. tukangkomentar mengatakan:

    Makasih, makasih!
    (sambil merah mukanya, air mata bercucuran, karena terharu dsb., dsb.)

  6. Arif Kurniawan mengatakan:

    Jujur mas, saya ndak bisa komen apa-apa…
    Yang pasti saya menangis membaca postingan awal anda ini.

    Keindahan dalam maut.

  7. tukangkomentar mengatakan:

    Arif Kurniawan :
    makasih. Setiap hati yang bisa saya gerakkan akan lebih berharga dari seribu ajaran yang membabi buta.

  8. chie mengatakan:

    saya terharu…trima kasih ya dah posting kisah ini🙂

  9. rusle mengatakan:

    bacaan ini, fakta ini, adalah bukti bahwa hati manusia adalah baik adanya…semua manusia baik adanya…..
    kadang2 hanya prang buas yang kebetulan berada di tampuk pemerintahan negara berkuasa saja yang mencoba memilah-memilah, mempermainkan hati warganya dan warga negara yang didudukinya….
    semua manusia baik adanya….

  10. helgeduelbek mengatakan:

    Saya tidak percaya benarkah hal ini terjadi? Masih adakah manusia yang berlaku seperti itu? Jika itu benar subhanallah…

  11. tukangkomentar mengatakan:

    chie:
    sekali lagi, setiap manusia yang tergerak hatinya karena membaca tulisan ini dan berpikir lebih lanjut, setiap manusia itu akan merupakan langkah pertama dalam mencapai kedamaian di dunia ini.

    rusle:
    pada dasarnya setiap manusia mempunyai kebaikan dalam hati sanubarinya, tetapi juga mempunyai kejelekan. Masalahnya yang mana yang lebih berkuasa dalam diri kita. Dan hal ini tergantung dari banyak hal (lingkungan: agama, keluarga dan sanak saudara, kerabat dan banyak hal lain lagi).

    helgeduelbek:
    ini kisah nyata, belum lama ini terjadinya.
    Baca ini:
    http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2005/11/11/AR2005111101624_pf.html
    http://newsfromrussia.com/hotspots/2005/11/07/67104.html
    http://www.voanews.com/english/archive/2005-11/2005-11-06-voa1.cfm?CFID=82352248&CFTOKEN=10479457
    http://www.blinkx.com/results?query=palestine%20saves
    http://www.blinkx.com/results?query=palestine%20saves
    “Waspadalah, tetapi jangan kehilangan kepercayaan terhadap kebaikan manusia.”

  12. Amd mengatakan:

    Komen di sini aja ah… (Ndak nemu kotak buat ruang tamu)
    Pak, di Jerman tepatnya di kota mana? Buat ditulis di Blogroll nih…

  13. narto mengatakan:

    artinya :
    Manusia baru bisa damai setelah melupakan agama🙂

  14. tukangkomentar mengatakan:

    AMD:
    sudah dijawab lewat Mail anda.

    Narto:
    mungkin cukup kalau ngerti agamanya?

  15. de King mengatakan:

    Betapa indah dan damainya dunia ini seandainya banyak orang bisa meneladani sang ayah tsb…
    Perbedaan bukanlah halangan untuk saling menyayangi…

  16. Amd mengatakan:

    Mana, Pak? E-mailnya ndak nyampe…
    Ngirim ke yang yahoo apa yang gmail?

  17. tukangkomentar mengatakan:

    de King ,
    justru perbedaan itu bagi saya merupakan tantangan untuk mematangkan kemampuan saya untuk memahami dan kemudian menyayangi. Kalau semua sama, alangkah membosankannya hidup ini, kan?

    amd:
    ke yang yahoo, sudah saya kirim sekali lagi.

  18. aunsstuff mengatakan:

    Sejauh yang saya tahu, seorang muslim yang menerima donor darah dari non muslim adalah halal. Coba lihat2 di artikel tanya jawab ustadz-nya eramuslim.com. saya pikir konteksnya sama, setuju gk? btw, thanks udah komen di blog saya.

  19. Dani Iswara mengatakan:

    kesehatan lintas konflik suku agama ras antar golongan..ihik..

  20. tukangkomentar mengatakan:

    Dani Iswara ,
    seandainya,…. ya, seandainya …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: