Ginjal anakku untuk siapa?

Januari 20, 2007

Hari ini, saya duduk di hadapan seorang ayah tua (72 tahun) dan anaknya (kira-kira 50 tahun). Mata mereka memancarkan kesedihan yang dalam. Kenapa?

Di ruang sebelah di bagian intensive care tergeletak putra/adik laki-laki mereka yang berusia 48 tahun dan telah mengalami pendarahan otak berat. Di antara bibirnya mencuat selang plastik ukuran 8,5 ch yang dihubungkan dengan mesin pernafasan, karena penafasannya sendiri sudah tidak berfungsi lagi. Di kedua lengannya menancap jarum-jarum infus, cairan-cairan mengalir menyusuri pembuluh-pembuluh darah tanpa menemui reaksi dari otak yang sudah mati. Di monitor pengawasan terlihat detak-detak jantung yang kadang cepat dan kadang lambat, konsentrasi oxigen di darahnya masih tetap di atas 90% karena pernafasan bantuan dengan mesin itu dan tekanan darahnya masih stabil.

Apa yang harus saya katakan? Mereka sudah tahu, bahwa tidak ada harapan hidup lagi bagi si sakit, bahwa otaknya sudah mati.

Saya paksakan diri untuk memulai pembicaraan:” Bapak-bapak, maaf, tema pembicaraan saya ini mungkin tidak menyenangkan, tetapi saya kira anda berdua sudah tahu diagnosanya dan bahwa tidak ada harapan lagi untuk putera/adik anda.”

“Ya, dokter, kami sudah tahu semuanya dan kami telah pasrah kepada Tuhan.”

“Kalau begitu, saya akan berterus terang saja dan saya mohon maaf sebelumnya, kalau pertanyaan saya ini tidak berkenan di hati anda.” Dan setelah menelan ludah saya lanjutkan pembicaraan itu:” Keadaan putra/adik anda sejak beberapa jam yang lalu telah memburuk dalam arti, bahwa otaknya tidak bekerja sama sekali. Istilahnya: brain death.”

“Ya, inipun sudah kami nantikan, dok,” kata si kakak sambil menahan air matanya.

“Karena anda berdua telah mengetahui situasinya secara jelas, saya memebraikan diri untuk bertanya: bagaimana pendapat anda tentang pendonoran organ? Maaf atas pertanyaan saya ini, kalau anda menginginkan, pembicaraan mengenai hal ini bisa kita sudahi di sini saja.”

Setelah sunyi beberapa detik, sang kakak berkata:” Ah, dok, kok kami belum memikirkan hal ini, ya? Nggak apa-apa, dok, kami tidak marah atau apa. Bagaimana pendapatmu, Pak?” Baca entri selengkapnya »


Mencari kebenaran

Januari 19, 2007

Kalau pada jaman dulu orang mencari kebenaran dengan melanglang buana dan berguru kepada guru-guru dan ulama-ulama terpandai dan terpilih, jaman sekarang ini sering pencarian kebenaran merupakan suatu perilaku yang didasari kemodernan dan kecepatan, melalui membaca atau menyerap informasi-informasi dari media masa, baik yang berbentuk media cetak (koran, buku dll.), suara (radio), gambar dan suara (Televisi) dan tentunya media informatika modern (internet).

Merekalah yang sering menjadi panutan dan guru-guru kita di era modern ini. Tentu saja di samping guru-guru atau ahli-ahli yang masih berbentuk manusia (Ya, memang masih ada lho mereka ini! Biarpun kadang mutunya harus dipertanyakan).

Terutama dalam media internet terkumpul (atau tersebar, tergantung sudut pandangnya) data-data informasi yang hampir tak terhingga banyaknya dan dapat diambil dengan kecepatan yang tinggi sekali.

Tetapi si pengambil tetaplah manusia yang mempunyai daya tangkap, daya serap, daya saring, daya interpretasi dan daya pengertian yang terbatas dan berbeda-beda antara satu dan yang lainnya.

Sering kita lihat atau alami, informasi-informasi yang diterima (dari media apapun) merupakan sebuah pernyataan atau statement yang meng“generalisasi“kann sesuatu dan fatalnya, hal-hal tersebut diserap oleh si penerima sebagai suatu yang mutlak.

Tetapi sering juga terjadi, bahwa si penerima informasi menyadari, bahwa informasi yang diterimanya merupakan suatu hal yang seharusnya dipertimbangkan lagi kebenarannya atau validitasnya, tetani demi suatu hal yang dia anut atau dia percayai, informasi ini dipergunakan sebagai suatu dasar argomentasi atau sebagai suatu senjata untuk mendekonstruksikan argumen lawan diskusinya.

Contohnya sering kita baca dalam blog-blog ataupun dalam diskusi-diskusi langsung.

Ambillah argumentasi free sex untuk menguatkan pendapat, bahwa negara barat (Negara-negara Uni Eropa, USA dsb) sudah mengalami kerusakan moral dan bahwa pengaruh-pengaruh mereka harus dihindarkan dan ditolak.

Fatalnya, banyak pengguna argumen ini tidak tahu jelas tentang free sex dan pengetahuan yang mereka punyai di dapat dari media atau dari cerita-cerita orang lain (yang mungkin juga belum pernah melihat atau mengalami sendiri hal ini atau Cuma berkunjung beberapa waktu di Negara-negara tersebut dan sudah merasa tahu semuanya dan boleh menjatuhkan vonisnya). Yang juga fatal adalah tendens untuk menyama-ratakan dan mengatakan, dalam hal ini, barat = free sex.

Apalagi kalau mereka mendapat informasi yang gini (Awas! Bukan untuk anak kecil atau yang imannya tidak kuat!):

Free sex1

Free sex2

 Di dunia barat sendiri tentu saja ada juga fenomena seperti ini. Tentu!

Contoh: pemberitaan tentang Islam di media massa banyak (bukan kebanyakan) difokuskan atas hal-hal yang negatif, seperti suicid bombing, perang dan pembantaian antara aliran agama Islam di Irak, penculikan dan penyanderaan oleh kaum Islam fanatis di Irak, Afganistan dsb.

Dengan sendirinya para pemirsa/pembaca/penonton/penginternet kalau tidak hati-hati akan membentuk sebuah gambaran yang negatif tentang Islam. Dengan istilah “Islam” mereka akan menghubungkan: primitif, pembantaian, intoleransi, penyanderaan, pembunuhan dsb., dsb.

Padahal kita yang berpandangan luas dan tahu banyak hal ini kan tahu, bahwa Islam bukan (cuma) itu.

Tetapi siapakah yang peduli, kalau informasi yang diterima kebanyakan hal-hal yang begitu?

Apalagi kalau melihat foto seperti ini (Awas! Bukan untuk anak kecil atau yang punya sakit jantung!):

Kurban

Korban

Lalu, apa jalan keluarnya?

Kembali ke jaman dulu, mencari kebenaran dengan melanglang buana dan melarang semua bentuk media cetak/suara/suara dan gambar/internet ?

Apakah guru-guru atau para ahli yang akan kita datangi akan betul-betul bisa memberikan penjelasan tentang kebenaran hidup kepada kita ? Ataukah penjelasan-penjelasan mereka hanya merupakan kutipan-kutipan dari buku-buku yang mereka anggap mutlak ?

Bagaimana pendapat anda ?


Merokoklah supaya (lebih cepat) masuk surga!

Januari 18, 2007

Semua kasus, dari agama sampai makan jagung bakar, pasti mempunyai pengikut dan penentang, jadi yang pro dan kontra. Ini hal yang biasa, karena manusia dikaruniai Tuhan/Allah/God/Sang Hyang Widi Wasa/Sang Hyang Tunggal/YHW/Aton (atau apapun sebutanNya) otak untuk mempertimbangkan kasus-kasus itu, sesuai dengan hati sanubarinya (atau tidak).

Dalam topik ini saya khusus ingin membicarakan perihal rokok-merokok.

Yang pro banyak, yang kontrapun sak abreg.

Lihat tulisan ini: Wadehel yang judulnya saya catut dan saya modifikasi (boleh, kan? Ini memang namanya curi dulu baru permisi 🙂).

Jelas-jelas mas Wadehel ,kalau disimak, ditilik dan diteliti agak ke dalam, ada tendensi ke arah kontra. Demikian juga beberapa komentator.

Tetapi kalau disimak, ditilik dan diteliti agak ke dalam juga, si bapak yang komen-nya diceritakan itu ada betulnya juga, bahkan nyerempet-nyerempet kemuliaan hati.

Lho, kok gitu?

Iya dong, coba pikirkan (tanpa emosi, tanpa polemik):

  1. Si beliau itu kan mikirkan nasib kaum buruh pabrik rokok, yang cari sesuap nasi supaya bisa beli nasi dan HP.
  2. Berapa jumlah pengangguran di Indonesia? Syukur-syukur mereka punya kerjaan, iya to? Nah, memperbaiki statistik negara, kan? Ini namanya cinta tanah air juga, kann?
  3. Belum lagi mata pencaharian mereka yang suplay bahan-bahan rokok (kertasnya, tembakaunya, campuran-campurannya dll., dan yang jual eceran)
  4. Beliau juga memikirkan pendapatan negara dari pajak, yang bisa (sekali lagi: bisa dan seharusnya) digunakan untuk: membiayai bidang pendidikan, bidang pertanian dll. Kalau tidak salah penghasilan keseluruhan per tahun dari pajak rokok ialah Rp. 9 Trilyun. Bayangkan apa yang bisa dan seharusnya digerakkan dengan uang sebanyak itu.
  5. Beliau membela hak asasi manusia untuk menikmati kenikmatan. Kan manusia hidup ini nggak cuma untuk beramal, berbuat baik, berbuat jahat, mukuli istri/anak ataupun tetangga yang nggak sependapat/seiman, nggarong, memperkosa, repot ngurusi istri yang lebih dari satu dll. Kan kadang-kadang perlu istirahat sambil santai.Apa yang lebih santai dari pada nongkrong sambil klepas-klepus mengasapi paru-paru sendiri (dan paru-paru tetangga)?
  6. Dan, ini hasil penyimakkan dan pemikiran saya sendiri (sambil meringis bangga!), beliau menunjukkan jalan nikmat untuk lebih cepat masuk surga bagi kita!

Nah, mulia, nggak? Ayo, suci nggak hatinya?

Pasti ada yang kritik (dasar tukang kritik! 🙂): Lho kok yang nomer 6 nyeleneh sekali. Ngawur lu ah!! Asbun nih !

Ah, mosok, sih? Tunggu dulu, disimak dulu ini:

  1. Setiap batang rokok menghasilkan kira-kira 2 (dua) liter asap. Katakanlah seorang perokok sejati (yang ngisep betul-betul, bukan cuma ngisep di mulut aja!) mensuplai paru-parunya dengan 50% dari hasil asap keseluruhannya. Jadi perbatang masuk 1 Liter asap ke paru-paru, mungkin beberapa persen masuk perut . Jadi perhari, kalau dia ngisep 1 s/d 2 pak rokok, si dia ini menikmati 1 s/d 2 x 20 Batang x 1 liter asap = 20 s/d 40 liter asap. Pertahun kira-kira 7300 s/d 14600 liter dan seumur hidup (hitunglah mulai ngerokok dari umur 15 tahun sampai mati umur 65 tahun = 50 tahun ngerokok) 365 000 s/d 730 000 liter. Misalkan si mas atau si mbak duduk dengan 2 temannya yang bukan perokok sambil santai klepas-klepus selama 2 jam. Misalkanlah asap yang dihisap sahabatnya si perokok itu berjumlah 10% dari jumlah keseluruhannya, hitung saja berapa yang dihisap si teman-teman itu. Ini hasil pikiran saya tanpa dasar penyelidikan atau pengukuran atau apapun. Cuma dari pengamatan dan pengalaman sendiri sebagai seorang yang pernah berkarir sebagai perokok berbobot (baca: berat) dan berkeyakinan. Jelas ?
  2. Selanjutnya : Dalam asap rokok telah diidentifikasi kira-kira 4000 zat kimia yang sebagian besar merupakan racun bagi tubuh kita atau yang dapat mengganggu kesehatan kita, 40 di antaranya sudah pasti dapat menyebabkan kanker. Ini beberapa di antaranya : Acetaldehid, akrolein, 4-aminobifenil, amoniak, anilin, senyawa-senyawa arsenik, benzantrazen, bensol, benzoflurantren, benzfenantren, benzpiren, hydrocyniacid, timah/plumb, kadmium, senyawa-senyawa kadmium, kadmiumklorid, chrom, chrysen, crotonaldehid, cyanida, dibenzacridin, dibenzantracen, 7H-dibenzcarbazol, dibenzpiren, 1,1-dimetilhidrazin, dimetilnitrosamin, dioxin, etilcarbamat, formaldehid, fufural, hidrazin, hidrochinon, indenopiren, karbonmonoxid, kresol, metilbenzopiren, s-metilcholantren, metilchrysen, metilnitrosamin, beta-naftilamid, alfa-naftilamin, nickel dan kompleks-komplex nickel, nikotin, 2-nitropropan, n-nitrosamin, n-nitrosodimetilamin, n-nitrosonornikotin, n-nitrosopirolidin, fenol, polonium 210 (radioaktif), plutonium (radioaktif), hidrokarbon-hidrokarbon polisiklis, piridin, tar (= aspal), thorium, 2-toluidin, toluol, vinilchlorid, zinc dll. Di tambah dengan zat-zat yang dikandung dalam udara akibat polusi, jadinya tambah buanyak lagi, kan?
  3. Nikotin bisa menyebabkan ketergantungan/kecanduan, yang kita rasakan sebagai kenikmatan. Selain itu diantisipasi, bahwa ada di antara kira-kira 600 zat tambahan dalam produksi rokok yang bias menyebabkan kecanduan.

Kalau ditinjau secara statistis, life expectancy perokok lebih rendah dari yang non-smoker. Menurut penelitian kira-kira dan rata-rata 10 tahun lebih pendek. Demikian juga orang-orang yang sengaja atau tidak jadi co smoker, lebih cepat masuk surganya (atau neraka?).

Kalau kita pikirkan, dalam 10 tahun kita bisa berbuat berapa banyak dan berapa macam dosa, kan betul kalau si beliau yang disebut di atas itu hatinya mulia, kalau beliau menunjukkan jalan ke pada kita untuk mempersingkat hidup ini? Iya, to? Seprti … usulkan bunuh diri secara perlahan-lahan dan secara nikmat, gitu lho!

Beberapa penyakit yang berkaitan dengan merokok:

Bronchitis obstruktif kronis (dengan atau tanpa emfisema). Gejala: sesak nafas, batuk, bertambahnya produksi secret bronchial, lemah jantung (dalam stadium lanjut).

Penyempitan pembuluh arteri jantung dengan gejala/komplikasi: serangan jantung/infark miokard, gangguan ritmus/detak jantung, lemah jantung dengan sesak nafas

Penyempitan pembuluh-pembuluh arteri lain: kaki (“smoker’s leg” , terapi: amputasi), tangan (jarang), leher (stroke dengan kelumpuhan, dis-/anartria, amnesia, demensia dll.), mata (gangguan penglihatan sampai kebutaan)

Kanker paru-paru, kelenjar pancreas, mulut dan tenggorokan, dll.

Dsb., dsb. ……

Nah, bagaimana pendapat anda? Mulia nggak si bapak itu? Masuk surga dianya kan?

Pasti!!

Pasti …..? Bukankah menganjurkan orang bunuh diri itu dosa besar ….? Biarpun bunuh dirinya perlahan-lahan dan penuh nikmat?

🙂


Ginjal muslim untuk anak Yahudi. Haram? Halal? Atau hanya kebesaran jiwa seorang ayah?

Januari 1, 2007

Menjelang hari raya Idul Fitri 2006. Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun bermain perang-perangan dengan teman-temannya. Sambil tertawa-tawa dan menenteng senapan mainan, ia berlari melintasi sebuah jalan yang dipagari rumah-rumah yang sebagian sudah runtuh dan sebagian lagi masih dihuni.Tiba-tiba terdengar dua tembakan, dan anak itu, Ahmed al-Chatib, tersungkur dan tergeletak di tengah jalan tanpa bergerak. Darah membasahi aspal di sekelilingnya.

Di rumah sakit para dokter menyatakan, bahwa otak Ahmed telah kehilangan fungsi, biarpun organ-organnya masih berfungsi. Separuh wajahnya yang masih muda dan penuh mengandung harapan telah tercabik oleh salah satu tembakan tersebut dan peluru yang kedua mengenai perut bagian bawahnya dan mengakibatkan pendarahan yang tak bisa dihentikan. Brain dead. Vonis yang mutlak.

Sang ayah, dengan wajah yang gelap karena kesedihan, bertanya kepada dokter yang mengurus Ahmed:” Jadi, tidak ada harapan lagi?”

Dokter itu dengan mata memancarkan rasa kasihan dan juga kesedihan yang mendalam menjawab: “Tidak, otaknya sudah mati. Cuma pertanyaan waktu saja, sampai organ-organnya yang lain berhenti berfungsi dan semuanya akan berakhir.”

Al-Chatib merenung beberapa detik dan mengangkat wajahnya memandand dokter itu. Sambil mengusap setetes air mata yang membasahi ujung matanya, dia bertanya lagi:” Apakah organ-organ anak saya bisa menyelamatkan jiwa orang lain?”

Pertanyaan yang tak terduga ini menyentuh hati dokter tersebut yang hanya bisa menjawab dengan terbata-bat:” Ya. “, dan setelah mengerskan hati dokter itu bertanya lagi: “Apakah anda mempunyai syarat mengenai penerima organ anak anda?”

“Hanya satu: jangan diberikan ke pada tentara Israel. Berapa waktu yang masih ada sampai saya memutuskannya betul-betul?”

Dalam waktu dua belas jam yang tersisa, Al-Chatib memeperoleh tentangan dan persetujuan. Imam dari kota tempat tinggalnya menghubungi Imam Agung Jerusalem, yang selanjutnya melanjutkan persoalan ini sampai ke Universitas Al Azhar di Kairo. Jawaban yang diterimanya: boleh, hal ini tidak melanggar hukum Qur’an. Sebagai langkah terakhir Al-Chatib meminta persetujuan Zakaria Subeidi, pemimpin Barisan martir militan Aksa di kota itu, yang mengatakan:” Perjuangan kita bukan melawan rakyat Yahudi, tetapi melawan penjajah!”, katanya. “Penyumbangan organ ini juga merupakan bagian dari perjuangan kita. Ini berarti kita akan mengurangi jumlah lawan kita, karena mereka yang mempunyai organ arab di tubuhnya tidak akan membunuh orang arab lagi.”

Yang menerima organ-organ Ahmed:Jantung: seorang gadis muslimah berusia 13 tahun. Paru-paru: seorang teenager dari Jerusalem. Hati (liver): dibagi dua dan masing-masing bagian ditransplantasikan ke tubuh dua orang Yahudi Ginjal: diberikan ke pada seorang anak Beduin berumur 5 tahun dan ke pada putri sebuah keluarga Yahudu ortodoks yang berusia 3 tahun.<><>Enam anak manusia yang akan berakhir hidupnya tanpa transplantasi dan sekarang memperoleh harapan lagi karena hadiah dari Ahmed dan keluarganya.

“Saya kehilangan Ahmed, tetapi saya kini memperoleh enam anak baru.” Enam anak baru yang masing-masing mengandung bagian dari Ahmed.

Dua dari penerima organ itu akhirnya meninggal.

Ibu dan ayah dari gadis Yahudi 3 tahun yang menerima ginjal Ahmed itu menyatakan, bahwa mereka sebetulnya lebih senang, jika ginjal itu ginjal Yahudi. Atas pernyataan itu mereka menerima makian dan kutukan dari masyarakat luas dan bahkan dari banyak orang Yahudi sendiri. Akhirnya mereka menyatakan terima-kasih mereka kepada keluarga Ahmed, tetapi tetap tidak mau berhubungan dengan mereka. Ismail Al-Chatib, ayah Ahmed, mengusap batu nisan puteranya dengan lembut. Ia tahu, bahwa Tuhan tahu.
(Dikutip dari majalah Spiegel yang terbit di Jerman).

Lalu, apa maksud saya mengutip berita itu? Tidak macam-macam. Hati saya tersentuh oleh kebesaran jiwa sang ayah, yang rela meng”hadiah”kan organ puteranya tanpa memandang agama atau ras. Dan saya akan berusaha belajar dari Al-Chatib dan mencontoh kebesaran hatinya.