Wong apik, wong elek. Neraka untukmu, surga untukku?

Februari 11, 2007

Orang yang bagaimanakah sebetulnya orang yang baik?
Haruskah dia beragama? Dan apakah kalau beragama/berkepercayaan secara taat dia automatis bisa langsung dikategorikan sebagai seorang baik? Kalau tidak beragama, apakah dia langsung bisa dicap orang jelek? Jahat? Laknat? Seperti setan penghuni WC? Neraka untuknya? Takdirnya berenang dalam air comberan? Ataukah bisa juga dia seorang yang baik? Penuh kasih dan toleransi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas akan saya bahas dalam posting lain.

Posting ini ialah ekspresi pemikiran saya pribadi mengenai perjalanan hidup. Bagaimana seseorang sebaiknya melakukan sesuatu, tidak peduli dia seorang yang beragama, seorang yang berkepercayaan atau seorang yang tidak menyembah siapapun. Karena ini bagi saya merupakan pendukung untuk mengerjakan sesuatu dengan baik dan ini merupakan salah satu langkah pertama untuk menjadi seorang yang baik.

Menurut kepercayaan yang saya ikuti dan menurut sanubari saya, sebelum melakukan/melaksanakan sesuatu pekerjaan atau aksi, kita harus melalui langkah-langkah berikut ini: “membaca”, merasakan, bertanya dan mengerti, meneliti/menyimaki pengertian yang kita peroleh kemudian melaksanakan dan setelah itu “menengok lagi ke belakang”. Saya sengaja tidak mencantumkan “berdoa”, karena hal ini untuk saya adalah sesuatu yang mutlak dan tidak perlu diperdebatkan, biarpun cara berdoa atau bersyukur tentu berbeda-beda. Baca entri selengkapnya »


Emergency aid doctor

Februari 10, 2007

Paman saya yang sudah sepuh telah meninggal akhir tahun lalu, karena menderita hypertensive crisis (krisis tekanan darah) yang mengakibatkan edema paru-paru. Dalam keadaan kritis dengan sesak napas yang hebat itu, kakak keponakan saya meminta tolong seorang tetangganya yang mempunyai mobil dan beliau diangkut ke rumah-sakit. Sayang beberapa meter sebelum sampai, beliau sudah dipanggil.

Kenapa saya ceritakan ini?

Karena saya berpikir, apakah jiwa beliau bisa diselamatkan dan saya bisa menengok sekali lagi sebelum di usianya yang sudah tinggi itu beliau akhirnya akan dipanggil Tuhan, seandainya di Indonesia sistem emergency aid doctor sudah/bisa diterapkan.

Apa sistem emergency aid doctor ini?

Tidak lain sistem pertolongan pertama dengan dokter-dokter yang memperoleh pendidikan khusus dalam hal ini. Bahkan sejak kurang lebih dua tahun yang lalu, pendidikan ini diakui sebagai sebuah subspesialisasi.

Bagaimana bekerjanya sistem ini? Baca entri selengkapnya »


Ciclesonid: kortison baru, apanya yang baru?

Februari 10, 2007

Di samping betamimetika inhalatif, kortison inhalatif merupakan obat yang bisa dibilang terpenting dalam terapi asthma bronchiale dan COPD. Kita mengenal budesonid, flutikason dll. yang beredar di pasaran.

Sejak awal 2005 sebuah kortison baru telah diluncurkan ke pasar dalam bentuk obat hisap cair (spray). Baru? Apanya yang baru? Apakah ini semua hanya kiat reklame saja untuk meningkatkan angka penjualannya?

Marilah kita simak dulu sifat-sifat kortison inhalatif ini. Ciclesonid adalahKortison yang dijual dalam bentuk obat sedot atau inhalatif dengan therapie indikasi asthma bronchiale, COPD dan juga batuk kronis (mengenai batuk kronis ini akan saya bahas dalam postingan lain). Zat awalnya merupakan senyawa yang inaktif dan baru diubah menjadi bentuk aktifnya (desisobutiril-ciclesonid) di organ tujuan, yakni paru-paru, oleh esterase endogen. Baru zat aktif inilah yang mengembangkan sifat-sifat antiinflamatoris seperti pada kortison yang lain. Di bagian-bagian lain yang dilaluinya (mulut, tenggorokan, trachea) ciclesonid belum mengembangkan efeknya, sehingga efek sampingan di tempat-tempat tersebut menjadi lebih berkurang. Farmakodinamik: Dalam beberapa studi in vitromenunjukkan, bahwa zat awal ciclesonid memiliki afinitas relatif terhadap reseptor (RRA: Relative Receptor Affinity) glukokortikoid sebesar 12 (angka bandingan ialah untuk deksametason: 100). Sedangkan RRA dari desisobutiril-ciclesonid (DC) mencapai 1200 (budesonid 900, beklometason-monopropionat 1345 dan flutikasonpropionat 1800). Makin tinggi RRA-nya, makin bagus efek klinisnya. Berarti DC mempunyai efek klinis yang bisa dibandingkan dengan efek-efek kortison lain yang disebut di atas. Sedangkan efek antiinflamatoris DC ternyata bisa disejajarkan dengan kortison inhalatif yang lain. Dalam sebuah percobaan, ternyata ciclesonid yang diberikan intratrakeal kepada tikus mengurangi eosinofili di saluran pernafasan. Efek ini bisa sebanding dengan budesonid dan flutikason. Satu hal lagi yang penting ialah supresi terhadap kortisol. Dengan dosis antara 400 s/d 1600 µg, tampaknya ciclesonid hampir tidak mempunyai efek yang tidak diinginkan terhadap kelenjar adrenal. Baca entri selengkapnya »


Ginjal anakku untuk siapa?

Januari 20, 2007

Hari ini, saya duduk di hadapan seorang ayah tua (72 tahun) dan anaknya (kira-kira 50 tahun). Mata mereka memancarkan kesedihan yang dalam. Kenapa?

Di ruang sebelah di bagian intensive care tergeletak putra/adik laki-laki mereka yang berusia 48 tahun dan telah mengalami pendarahan otak berat. Di antara bibirnya mencuat selang plastik ukuran 8,5 ch yang dihubungkan dengan mesin pernafasan, karena penafasannya sendiri sudah tidak berfungsi lagi. Di kedua lengannya menancap jarum-jarum infus, cairan-cairan mengalir menyusuri pembuluh-pembuluh darah tanpa menemui reaksi dari otak yang sudah mati. Di monitor pengawasan terlihat detak-detak jantung yang kadang cepat dan kadang lambat, konsentrasi oxigen di darahnya masih tetap di atas 90% karena pernafasan bantuan dengan mesin itu dan tekanan darahnya masih stabil.

Apa yang harus saya katakan? Mereka sudah tahu, bahwa tidak ada harapan hidup lagi bagi si sakit, bahwa otaknya sudah mati.

Saya paksakan diri untuk memulai pembicaraan:” Bapak-bapak, maaf, tema pembicaraan saya ini mungkin tidak menyenangkan, tetapi saya kira anda berdua sudah tahu diagnosanya dan bahwa tidak ada harapan lagi untuk putera/adik anda.”

“Ya, dokter, kami sudah tahu semuanya dan kami telah pasrah kepada Tuhan.”

“Kalau begitu, saya akan berterus terang saja dan saya mohon maaf sebelumnya, kalau pertanyaan saya ini tidak berkenan di hati anda.” Dan setelah menelan ludah saya lanjutkan pembicaraan itu:” Keadaan putra/adik anda sejak beberapa jam yang lalu telah memburuk dalam arti, bahwa otaknya tidak bekerja sama sekali. Istilahnya: brain death.”

“Ya, inipun sudah kami nantikan, dok,” kata si kakak sambil menahan air matanya.

“Karena anda berdua telah mengetahui situasinya secara jelas, saya memebraikan diri untuk bertanya: bagaimana pendapat anda tentang pendonoran organ? Maaf atas pertanyaan saya ini, kalau anda menginginkan, pembicaraan mengenai hal ini bisa kita sudahi di sini saja.”

Setelah sunyi beberapa detik, sang kakak berkata:” Ah, dok, kok kami belum memikirkan hal ini, ya? Nggak apa-apa, dok, kami tidak marah atau apa. Bagaimana pendapatmu, Pak?” Baca entri selengkapnya »