Wong apik, wong elek. Neraka untukmu, surga untukku?

Februari 11, 2007

Orang yang bagaimanakah sebetulnya orang yang baik?
Haruskah dia beragama? Dan apakah kalau beragama/berkepercayaan secara taat dia automatis bisa langsung dikategorikan sebagai seorang baik? Kalau tidak beragama, apakah dia langsung bisa dicap orang jelek? Jahat? Laknat? Seperti setan penghuni WC? Neraka untuknya? Takdirnya berenang dalam air comberan? Ataukah bisa juga dia seorang yang baik? Penuh kasih dan toleransi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas akan saya bahas dalam posting lain.

Posting ini ialah ekspresi pemikiran saya pribadi mengenai perjalanan hidup. Bagaimana seseorang sebaiknya melakukan sesuatu, tidak peduli dia seorang yang beragama, seorang yang berkepercayaan atau seorang yang tidak menyembah siapapun. Karena ini bagi saya merupakan pendukung untuk mengerjakan sesuatu dengan baik dan ini merupakan salah satu langkah pertama untuk menjadi seorang yang baik.

Menurut kepercayaan yang saya ikuti dan menurut sanubari saya, sebelum melakukan/melaksanakan sesuatu pekerjaan atau aksi, kita harus melalui langkah-langkah berikut ini: “membaca”, merasakan, bertanya dan mengerti, meneliti/menyimaki pengertian yang kita peroleh kemudian melaksanakan dan setelah itu “menengok lagi ke belakang”. Saya sengaja tidak mencantumkan “berdoa”, karena hal ini untuk saya adalah sesuatu yang mutlak dan tidak perlu diperdebatkan, biarpun cara berdoa atau bersyukur tentu berbeda-beda. Baca entri selengkapnya »